Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terganjal Inflasi Rp9,4 Triliun, Swiss Pangkas Pembelian Jet Tempur F-35 Menjadi 30 Unit

Redaksi Prokal • 2026-03-07 12:15:00

F-35
F-35

 

BERN – Pemerintah Swiss resmi mengonfirmasi kelanjutan akuisisi jet tempur canggih F-35A buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat. Namun, akibat tekanan inflasi yang melonjak tajam, jumlah unit yang dibeli terpaksa dipangkas dari rencana awal 36 pesawat menjadi hanya 30 unit saja.

Keputusan pahit ini diambil setelah kalkulasi terbaru menunjukkan adanya pembengkakan biaya (inflasi biaya) sebesar $600 juta (sekitar Rp9,4 triliun) di atas pagu anggaran yang telah disetujui oleh parlemen dan rakyat Swiss.

Sejarah pengadaan ini bermula pada tahun 2020, ketika publik Swiss melalui referendum menyetujui anggaran sebesar $6,58 miliar untuk pembelian hingga 40 jet tempur baru. Pada akhir 2022, Surat Penawaran dan Penerimaan (Letter of Offer & Acceptance/LoA) awalnya ditandatangani untuk 36 unit dengan nilai kontrak $6,25 miliar.

Namun, keterlambatan Swiss dalam merampungkan penandatanganan LoA berdampak fatal. Mereka kehilangan momentum untuk masuk dalam kontrak produksi massal Lot 15-17 pada Desember 2022, yang biasanya menawarkan harga lebih kompetitif. Akibatnya, saat harga material dan biaya produksi global meroket, anggaran Swiss tidak lagi mencukupi untuk memboyong 36 unit pesawat.

Meski jumlah armada berkurang signifikan, pemerintah Swiss menegaskan tidak akan membatalkan proyek ini demi kedaulatan wilayah udara mereka.

"Pengurangan yang lebih besar pada armada F-35A atau, lebih spesifiknya, penghentian kontrak, ditolak karena alasan kebijakan keamanan," ungkap pernyataan resmi pemerintah Swiss, Jumat (6/3/2026).

Pihak otoritas menambahkan bahwa membatalkan kontrak tersebut akan membawa konsekuensi fatal bagi perlindungan negara dan penduduknya, bahkan dalam kondisi normal sekalipun. Dengan 30 unit F-35A, Swiss berharap tetap bisa memodernisasi angkatan udaranya yang mulai menua, meskipun dengan kekuatan pemukul yang lebih ramping dari rencana semula. (*)

Editor : Indra Zakaria