Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jejak Toleransi Sultan Suleiman: Sosok Muslim di Balik Berdirinya Tembok Barat Yerusalem

Redaksi Prokal • 2026-03-07 14:15:00

Sultan Suleiman Al-Qanuni dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).
Sultan Suleiman Al-Qanuni dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

YERUSALEM – Di tengah kompleksitas sejarah Kota Suci Yerusalem, terdapat satu fakta sejarah yang jarang diketahui publik modern: keberadaan Tembok Barat (Western Wall) yang kokoh berdiri saat ini merupakan buah dari kebijakan toleransi Sultan Suleiman Al-Qanuni dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

Pada abad ke-16 (sekitar tahun 1500-an), Yerusalem berada dalam kondisi memprihatinkan dengan tembok kota yang runtuh akibat konflik berkepanjangan sebelum kedatangan bangsa Turki Othman. Sultan Suleiman, yang dikenal di Barat sebagai Suleiman the Magnificent, mengambil langkah besar dengan membangun kembali seluruh tembok perlindungan Yerusalem.

Menariknya, Suleiman tidak hanya fokus pada pertahanan militer. Ia secara khusus menetapkan area di bagian barat sisa reruntuhan Bait Suci sebagai tempat berdoa yang sah bagi umat Yahudi. Dalam sebuah catatan sejarah, sang Sultan bahkan secara tegas menyatakan, “Tempat ini adalah untuk orang Yahudi.”

Tak berhenti pada pembangunan fisik, Sultan Suleiman juga mengeluarkan dekrit resmi (firman) yang melindungi hak ibadah umat Yahudi di lokasi tersebut. Kebijakan ini merupakan bagian dari visi besarnya tentang keberagaman, di mana ia juga menerapkan perlindungan serupa bagi berbagai sekte Kristen dan tentu saja bagi umat Muslim di Yerusalem.

Fakta bahwa seorang Sultan Muslim Turki menjadi pelindung dan arsitek modern bagi situs paling suci umat Yahudi saat ini memberikan perspektif penting tentang sejarah toleransi beragama di masa lalu. Tembok Barat yang kita lihat sekarang merupakan saksi bisu dari kepemimpinan Suleiman yang mengedepankan koeksistensi antarumat beragama di jantung Kota Suci. (*)

Editor : Indra Zakaria
#ustmaniyah