Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Teheran Beri Peringatan Keras: "Eropa Akan Menjadi Target Sah Kami Jika Ikut Campur"

Redaksi Prokal • 2026-03-08 06:00:00

Majid Takht-Ravanchi
Majid Takht-Ravanchi

 

PARIS — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Barat mencapai level paling mengkhawatirkan setelah Teheran melayangkan ancaman terbuka terhadap keamanan benua Eropa. Melalui wawancara eksklusif di televisi Prancis, France 24, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, berbicara dengan nada dingin namun tegas mengenai risiko besar yang akan dihadapi sekutu Amerika Serikat di Eropa.

"Kami telah secara resmi menginformasikan kepada negara-negara Eropa dan pihak lainnya: jangan pernah terlibat dalam agresi ini," tegas Takht-Ravanchi saat menjawab pertanyaan mengenai posisi Iran. Ia tidak ragu menyebut bahwa Teheran kini telah menetapkan garis merah baru bagi kedaulatan mereka. "Jika ada negara yang bergabung dengan Amerika Serikat dan Israel, maka secara otomatis mereka akan menjadi target sah bagi pembalasan militer Iran tanpa terkecuali," tambahnya.

Pernyataan keras ini muncul tepat ketika kekuatan militer Eropa mulai menunjukkan taringnya di kawasan Mediterania. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, sebelumnya menyatakan bahwa Berlin tidak akan tinggal diam dan bersiap mengambil langkah militer. "Kami siap melakukan tindakan defensif yang diperlukan guna melumpuhkan kemampuan peluncuran rudal Iran demi stabilitas kawasan," ujar Merz dalam pernyataan resminya.

Namun, niat "defensif" tersebut justru dipandang sebagai deklarasi perang oleh pihak Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menimpali bahwa pihaknya tidak akan lagi memedulikan alasan di balik keterlibatan pihak Barat. "Teheran tidak lagi membedakan antara apa yang kalian sebut 'tindakan defensif' dengan serangan langsung. Setiap upaya untuk menghalangi pertahanan kami adalah pernyataan perang yang akan kami balas hingga ke jantung kota-kota besar di Eropa," tegas Baghaei.

Dunia kini menahan napas saat ancaman ini mulai memukul sektor ekonomi. Para pialang di pasar komoditas melaporkan kepanikan massal yang membuat harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir. "Kami sangat mengkhawatirkan adanya blokade total di Selat Hormuz yang akan melumpuhkan pasokan energi dunia secara permanen jika ancaman ini benar-benar dilaksanakan," ungkap salah satu analis energi global menanggapi situasi yang semakin tidak menentu tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria