TEHERAN — Eskalasi ketegangan diplomatik kembali menyelimuti hubungan antara dua negara tetangga di kawasan Kaukasus. Markas Pusat Khatam al-Anbiya, sebagai komando tertinggi angkatan bersenjata Iran, secara resmi mengeluarkan peringatan keras sekaligus ultimatum kepada pemerintah Azerbaijan di Baku terkait kehadiran kekuatan asing di wilayah mereka.
Dalam pernyataan resminya, pihak militer Iran menegaskan bahwa meskipun fokus utama mereka saat ini adalah menghadapi kekuatan Barat di Timur Tengah, mereka tetap memantau ketat perbatasan utara demi stabilitas regional. Iran memperingatkan bahwa keamanan nasional mereka adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
“Angkatan bersenjata Republik Islam Iran, meskipun terlibat dalam pertempuran sengit melawan agresor Amerika dan Zionis di kawasan tersebut, telah melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa tidak ada bahaya yang mengancam keamanan nasional dan kepentingan negara-negara sahabat, tetangga, dan negara-negara Muslim,” tegas perwakilan Khatam al-Anbiya dalam pernyataan tertulisnya.
Namun, nada bicara Teheran berubah menjadi lebih menekan saat menyoroti hubungan kerja sama pertahanan antara Baku dan Israel. Iran mendesak Azerbaijan, sebagai sesama negara Muslim, untuk segera memutuskan hubungan strategis yang dianggap mengancam kedaulatan Iran.
Pihak Teheran memberikan tuntutan yang sangat spesifik demi mencegah konflik yang lebih luas. “Kami menyatakan kepada negara tetangga Iran, Republik Azerbaijan, sebagai negara Muslim, bahwa untuk mencegah penyebaran ketidakamanan di kawasan ini, negara tersebut HARUS mengusir Zionis dari negaranya dan tidak membahayakan keamanan rakyatnya sendiri dan Iran,” lanjut pernyataan tersebut dengan nada ultimatum.
Ultimatum ini muncul di tengah kekhawatiran Iran bahwa wilayah Azerbaijan dapat digunakan sebagai landasan peluncuran operasi intelijen atau militer oleh pihak asing. Hingga saat ini, pemerintah Azerbaijan belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan keras Teheran tersebut, sementara komunitas internasional mengkhawatirkan munculnya front konflik baru di perbatasan kedua negara tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria