Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gelombang Penolakan Meluas: Parlemen Belgia Desak Eropa Boikot Dukungan Militer untuk "Perang Trump" di Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-08 12:45:00

Donald Trump
Donald Trump

BRUSSELS — Tekanan diplomatik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Israel kini mencapai titik didih baru. Para pemimpin dan tokoh politik di berbagai belahan dunia mulai menyuarakan kecaman keras terhadap langkah-langkah yang diambil oleh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, terutama terkait meningkatnya risiko eskalasi militer di kawasan Iran.

Sentimen perlawanan ini kini menjalar hingga ke jantung Uni Eropa. Dalam sidang terbaru di Brussels, sejumlah anggota Parlemen Belgia menyatakan sikap tegas untuk tidak terlibat dalam konflik bersenjata apa pun yang diinisiasi oleh Washington. Mereka menyerukan agar Eropa menjaga jarak dari kebijakan konfrontatif yang dinilai dapat merusak stabilitas global.

"Tidak satu pun tentara atau senjata yang boleh digunakan untuk perang Trump di Iran. Kita harus mengatakan 'Tidak' kepada Trump seperti yang dilakukan Spanyol," tegas salah satu anggota Parlemen Belgia dalam pidatonya yang disambut sorotan tajam dunia internasional. Seruan ini menggarisbawahi keinginan kuat agar Belgia mengikuti jejak negara-negara Eropa lain yang lebih dulu menarik diri dari dukungan militer langsung.

Tren pembangkangan terhadap kebijakan Trump di Timur Tengah ini memang menunjukkan pola yang semakin meluas di benua biru. Spanyol menjadi pionir dalam menyatakan keberatannya, yang kemudian diikuti oleh langkah serupa dari pemerintah Inggris. "Pertama Spanyol, kemudian Inggris, dan sekarang Belgia," tulis salah satu laporan pengamat politik internasional yang menyoroti pergeseran aliansi transatlantik ini.

Kecaman kolektif ini menempatkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dalam posisi yang semakin terisolasi di panggung diplomasi Barat. Para pemimpin dunia kini lebih memilih untuk memprioritaskan de-eskalasi dan jalur dialog, sembari menegaskan bahwa kedaulatan militer masing-masing negara tidak bisa lagi didikte oleh agenda sepihak yang berisiko memicu perang besar di Timur Tengah.(*)

Editor : Indra Zakaria