PROKAL.CO– Konflik bersenjata yang dipicu oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini memasuki fase baru yang berbahaya. Untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai pada 28 Februari lalu, serangan udara besar-besaran mulai menargetkan infrastruktur vital energi, termasuk depot penyimpanan minyak dan fasilitas penyulingan di pinggiran Teheran.
Media lokal menangkap rekaman api raksasa yang melalap depot minyak Shehran di luar Teheran pada Sabtu malam. Militer Israel segera mengklaim tanggung jawab atas serangan tersebut, dengan alasan fasilitas itu berafiliasi dengan angkatan bersenjata Iran. Sejak dimulainya operasi militer ini, sedikitnya 1.332 orang dilaporkan tewas.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap teguh pada tuntutannya agar Iran menyerah tanpa syarat. Meski menyatakan tidak berniat melakukan negosiasi dengan Teheran, Trump memperkirakan kampanye militer ini akan berlangsung setidaknya empat hingga enam minggu ke depan.
Dugaan Kejahatan Perang dan Isu Suksesi
Ketegangan internasional meningkat setelah Human Rights Watch mendesak penyelidikan atas serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Iran selatan yang menewaskan 160 orang, mayoritas anak-anak. Laporan investigasi awal mengisyaratkan bahwa serangan tersebut mungkin dilakukan oleh pihak AS dan bersifat disengaja.
Di tengah gempuran ini, muncul laporan bahwa Iran sedang mempersiapkan pemimpin baru. Anggota Majelis Ahli Iran, Ayatollah Mohammad-Mahdi Mirbagheri, mengisyaratkan bahwa keputusan mengenai pengganti mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah mencapai kesepakatan bulat.
Front Lebanon dan Irak
Israel tidak hanya fokus pada Iran, tetapi juga meningkatkan intensitas serangan di Beirut, Lebanon. Sebuah hotel di pusat kota dibom dengan alasan menargetkan komandan Pasukan Quds, menewaskan sedikitnya empat orang. Sementara itu di Irak utara, pasukan Peshmerga Kurdi menembak jatuh drone yang melintas di wilayah Sulaimaniyah. Presiden Trump sendiri menyatakan enggan melibatkan kelompok Kurdi secara langsung agar tidak membuat peta konflik menjadi semakin rumit.
Situasi saat ini berada di titik nadir dengan adanya laporan bahwa AS dan Israel mulai mendiskusikan opsi operasi pasukan khusus untuk menyita stok uranium yang diperkaya milik Iran guna mencegah eskalasi nuklir di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria