Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Klaim Iran: AS dan Israel Minta Gencatan Senjata, Iran Maunya Permanen

Redaksi Prokal • 2026-03-08 23:51:09

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi

 

TEHERAN – Di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah, Iran secara resmi menyatakan penolakannya terhadap usulan gencatan senjata terbaru yang diserukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Teheran menilai langkah tersebut bukan merupakan solusi jangka panjang bagi stabilitas kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dalam pernyataan resminya memberikan respons dingin terhadap upaya diplomasi yang digalang oleh Washington dan Tel Aviv. Menurutnya, gencatan senjata sementara hanya akan menjadi penundaan konflik tanpa menyentuh akar permasalahan yang ada.

“Mereka kembali menyerukan gencatan senjata, ini tidak akan terjadi,” tegas Araqchi. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran dan faksi-faksi sekutunya belum bersedia menghentikan operasi militer sebelum tuntutan mendasar mereka terpenuhi.

Keamanan Rakyat Sebagai Prioritas Utama

Araqchi menekankan bahwa posisi Iran sangat jelas: satu-satunya jalan keluar yang dapat diterima adalah pengakhiran perang secara permanen dan menyeluruh. Selama kesepakatan mengenai penghentian agresi secara total belum tercapai, Iran mengisyaratkan bahwa konfrontasi akan terus berlangsung.

“Harus ada pengakhiran permanen untuk perang ini. Sampai kita mencapai tahap ini, saya pikir kita perlu terus berjuang demi keamanan rakyat kita,” tambahnya.

Sikap keras Teheran ini menunjukkan adanya jurang perbedaan yang sangat lebar dalam meja perundingan. Di satu sisi, AS dan Israel mencoba menawarkan jeda pertempuran untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan negosiasi sandera. Di sisi lain, Iran melihat usulan tersebut sebagai taktik militer lawan untuk mengonsolidasikan kekuatan di tengah tekanan.

Penolakan ini diprediksi akan memperumit situasi keamanan di kawasan, terutama di titik-titik konflik yang melibatkan proksi-proksi regional. Dengan tegasnya penolakan ini, mata dunia kini tertuju pada langkah apa yang akan diambil oleh komunitas internasional untuk mencegah perang yang lebih luas, sementara retorika perang di antara kedua kubu justru semakin memanas.(*)

Editor : Indra Zakaria