Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Era Baru di Teheran: Mojtaba Khamenei Resmi Menjabat Pemimpin Tertinggi Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-09 14:05:10

Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei

TOKYO – Media pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penetapan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran pada Senin (9/3). Penunjukan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini dilakukan melalui mufakat Majelis Ahli, lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior, untuk mengisi kekosongan kekuasaan pasca-serangan udara mematikan yang mengguncang Teheran pekan lalu.

Mojtaba yang kini berusia 56 tahun menjadi tokoh ketiga yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi sejak Revolusi Islam 1979. Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memegang otoritas absolut atas sistem yudikatif, legislatif, administratif, hingga kendali penuh atas program nuklir negara tersebut.

Suksesi di Tengah Puing dan Duka

Transisi kekuasaan ini berlangsung dalam suasana yang sangat emosional dan penuh tekanan. Mojtaba naik takhta hanya berselang sepuluh hari setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya, ibunya, serta istrinya, Zahra Haddad-Adel.

Meskipun kehilangan sebagian besar anggota keluarganya dalam serangan di kompleks kediaman Teheran tersebut, Mojtaba tetap menunjukkan keteguhan garis keras. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyatakan dukungan penuh mereka kepada pemimpin baru ini, yang diperkirakan akan melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap Barat.

Pelantikan Mojtaba langsung disambut dengan tensi tinggi dari panggung internasional. Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras yang meragukan ketahanan pemimpin baru tersebut tanpa adanya kesepakatan dengan Washington.

Respons lebih agresif datang dari Israel. Kepala Pertahanan Israel, Israel Katz, melalui platform X, secara terbuka menyatakan bahwa setiap pemimpin Iran yang melanjutkan agenda penghancuran Israel akan menjadi target pembunuhan.

"Setiap pemimpin yang dipilih rezim Iran untuk mengancam dunia bebas dan menindas rakyatnya sendiri akan menjadi target pasti, di mana pun ia bersembunyi," tegas Katz.

Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba Khamenei besar di lingkungan pusat keagamaan dan politik Iran. Ia menikah dengan putri politikus konservatif terkemuka, Gholam-Ali Haddad-Adel. Keterlibatannya yang mendalam dalam struktur kekuasaan selama masa jabatan ayahnya membuatnya dipandang sebagai sosok yang memahami seluk-beluk diplomasi bayangan dan kekuatan militer Iran.

Kini, di tengah bayang-bayang ancaman pembunuhan dan gejolak geopolitik Teluk, dunia menunggu langkah pertama Mojtaba Khamenei dalam menavigasi Iran keluar dari salah satu krisis terdalam sepanjang sejarah modernnya. (*)

Editor : Indra Zakaria