Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Cerita Perlawanan Alice Kisiya: Perempuan Kristen Palestina yang Bertahan di Garis Depan Lembah Makhrour

Indra Zakaria • 2026-03-09 16:26:40

Alice (kiri) berhadapan dengan pria Yahudi.
Alice (kiri) berhadapan dengan pria Yahudi.

TEPI BARAT – Di tengah eskalasi konflik yang terus membara di Tepi Barat, sosok Alice Kisiya, seorang aktivis perempuan Kristen Palestina, muncul sebagai simbol keteguhan hati dalam mempertahankan tanah leluhur. Di wilayah Lembah Makhrour, dekat Beit Jala, Alice berdiri di garis depan melawan ekspansi pemukim Israel yang mencoba menguasai lahan pertanian keluarganya yang telah dikelola secara turun-temurun.

Alice bukan sekadar memperjuangkan sebidang tanah, melainkan sebuah warisan sejarah. Lembah Makhrour merupakan salah satu wilayah hijau terakhir yang tersisa di kawasan tersebut dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Bagi Alice, perjuangan ini adalah manifestasi dari eksistensi komunitas Kristen Palestina yang kian terhimpit di tanah kelahiran mereka.

Alice berani adu fisik dengan Yahudi yang akan mengambil tanahnya.
Alice berani adu fisik dengan Yahudi yang akan mengambil tanahnya.

"Kami tidak hanya mempertahankan tanah, kami mempertahankan identitas dan hak kami untuk hidup di tanah ini," ujar Alice dalam sebuah aksi protes damai baru-baru ini.

Konflik memuncak ketika otoritas dan pemukim mulai mendirikan struktur di wilayah yang diklaim sebagai milik keluarga Kisiya. Meski menghadapi tekanan fisik, intimidasi, hingga penahanan oleh aparat keamanan, Alice tetap konsisten melakukan aksi pendudukan kembali (reclaiming) dan doa bersama sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan.

Perjuangan Alice menarik perhatian komunitas internasional dan para pemimpin gereja dunia. Ia menjadi suara bagi warga Palestina yang terisolasi, menunjukkan bahwa perlawanan terhadap pendudukan melampaui batas-batubara agama dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Bagi banyak orang di Tepi Barat, keberanian Alice Kisiya adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik konflik, terdapat manusia-manusia yang sedang berjuang demi martabat, pohon-pohon zaitun yang mereka tanam, dan masa depan anak-anak mereka di tanah air yang merdeka.(*)

Editor : Indra Zakaria