Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenal Petrodollar: Fondasi Ekonomi Amerika yang Terancam Goyah Jika Iran Wajibkan Yuan di Selat Hormuz

Redaksi Prokal • 2026-03-14 14:09:44

Ilustrasi Selat Hormuz.
Ilustrasi Selat Hormuz.

PROKAL.CO— Ketegangan di Timur Tengah kini tidak hanya merambah ranah militer, tetapi juga mulai menyentuh jantung pertahanan finansial Amerika Serikat. Kabar mengenai rencana Iran yang hanya akan mengizinkan kapal tanker melintasi Selat Hormuz jika transaksi minyaknya menggunakan Yuan Tiongkok (CNY) memicu kembali diskusi panas mengenai masa depan petrodollar. Langkah berani Teheran ini dinilai para analis sebagai tantangan langsung terhadap dominasi dolar AS yang telah menguasai pasar energi dunia selama lebih dari lima dekade.

Secara mendasar, petrodollar bukanlah mata uang baru, melainkan sebuah sistem global di mana minyak mentah dihargai dan diperdagangkan menggunakan dolar Amerika Serikat. Sistem ini menciptakan siklus permintaan konstan terhadap mata uang Paman Sam tersebut, mengingat hampir setiap negara di dunia membutuhkan minyak untuk menggerakkan ekonominya. Sejarah mencatat bahwa fondasi ini mulai menguat pada tahun 1974 lewat kesepakatan strategis antara Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang tidak hanya menstabilkan harga minyak pasca-krisis energi tetapi juga mengukuhkan dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Dalam mekanisme yang dikenal sebagai daur ulang petrodollar, negara-negara pengekspor minyak menerima pembayaran dalam dolar dan kemudian mengalirkan kembali dana tersebut ke sistem keuangan global melalui investasi atau pembelian obligasi pemerintah AS. Selama berpuluh-puluh tahun, skema ini memberikan keuntungan finansial yang luar biasa bagi Washington karena permintaan terhadap aset keuangan mereka tetap terjaga tinggi, sekaligus mempererat hubungan geopolitik dengan produsen minyak di Timur Tengah.

Namun, dominasi tersebut kini menghadapi ancaman nyata di tengah memanasnya konflik regional. Di lokasi strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak harian dunia, Iran dikabarkan sedang mempertimbangkan kebijakan baru untuk mengatur lalu lintas kapal tanker. Munculnya opsi penggunaan Yuan sebagai syarat melintas menjadi sinyal kuat penguatan "Petroyuan". Tiongkok sendiri memang telah lama berupaya memperluas pengaruh mata uangnya di panggung energi global, termasuk mendekati produsen besar lainnya untuk mulai meninggalkan ketergantungan pada dolar.

Para analis memprediksi bahwa pergeseran dari petrodollar menuju sistem multi-mata uang memang tidak akan terjadi dalam semalam. Meski demikian, jika kebijakan Iran ini benar-benar diterapkan, hal tersebut akan menjadi preseden geopolitik yang sangat penting. Dampak potensialnya adalah penurunan permintaan global terhadap dolar secara bertahap yang pada akhirnya dapat melemahkan dominasi finansial AS di pasar energi internasional.

Kini, Selat Hormuz tidak lagi sekadar menjadi titik nadi distribusi energi, melainkan berubah menjadi arena persaingan mata uang global. Dinamika antara dolar dan yuan di jalur laut sempit tersebut akan menentukan bagaimana wajah perdagangan energi dunia di masa depan. Jika keterkaitan akses pelayaran dan penggunaan yuan terus menguat, tatanan ekonomi yang selama ini mapan bisa saja memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian. (*)

Editor : Indra Zakaria