WASHINGTON — Di tengah berkecamuknya perang pekan kedua antara Amerika Serikat dan Iran, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan luas. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump membuat pengakuan ganjil bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengacaukan jalur pelayaran minyak global, terlepas dari klaimnya bahwa kekuatan militer Teheran telah dilumpuhkan sepenuhnya.
Pernyataan ini muncul di saat eskalasi konflik semakin memanas, menyusul tewasnya 13 tentara AS dan lonjakan harga minyak dunia akibat ancaman di Selat Hormuz.
Kontradiksi Klaim 'Kemenangan'
Dalam upayanya memberikan ketenangan kepada publik, Trump justru mengeluarkan kalimat yang dianggap membingungkan. Ia mengklaim militer AS telah menghancurkan 100% kemampuan militer Iran, namun di sisi lain, ia mengakui bahwa Iran tetap menjadi ancaman nyata yang sulit dihentikan sepenuhnya.
“Kami telah menghancurkan 100% kemampuan militer Iran, tetapi sangat mudah bagi mereka untuk mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak pendek di suatu tempat di perairan ini, tidak peduli seberapa parah mereka telah dikalahkan,” tulis Trump, Sabtu (14/3/2026).
Trump menyebut kondisi Iran saat ini telah "terpenggal" (decapitated), namun tetap memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak akan terus berlanjut karena sifat serangan gerilya yang sederhana.
Menghadapi kebuntuan di Selat Hormuz, Trump mendesak negara-negara sekutu dan mereka yang terdampak secara ekonomi—seperti Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris—untuk segera mengirimkan kapal perang mereka. Ia berharap koalisi internasional dapat membantu AS menjaga jalur vital tersebut tetap terbuka.
“Sementara itu, Amerika Serikat akan terus menggempur garis pantai dan menembak kapal-kapal Iran keluar dari perairan. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuat Selat Hormuz terbuka, aman, dan bebas!” tegas Trump dalam unggahan tersebut.
Pengakuan Trump ini muncul di saat pemerintahannya sedang berada di bawah tekanan besar. Selain angka kematian tentara yang meningkat, investigasi militer awal juga mengungkap insiden tragis serangan terhadap sebuah sekolah dasar yang menewaskan sedikitnya 160 anak-anak—sebuah kejadian yang dikaitkan dengan operasi militer AS.
Merespons tekanan tersebut, pemerintahan Trump memilih untuk menyerang balik media massa. Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth bahkan menuding pelaporan mengenai kematian pasukan AS sengaja dilakukan untuk "membuat Presiden terlihat buruk" dan menuntut pers untuk memberikan liputan yang lebih "patriotik".
Situasi di lapangan pun belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan laporan terbaru mengenai serangan terhadap kedutaan besar AS di Irak dan fasilitas minyak di UEA, yang semakin mengaburkan klaim bahwa ancaman Iran telah berakhir. (*)
Editor : Indra Zakaria