Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

16 Hari Perang Iran: 15.000 Target Hancur, Korban Jiwa Tembus 1.400, Timur Tengah Berada di Ambang Kolaps

Indra Zakaria • 2026-03-16 01:00:00

Para demonstran berkumpul di Times Square untuk memperingati Hari Al-Quds di Manhattan, New York, Amerika Serikat, 13 Maret 2026 [David ‘Dee’ Delgado/Reuters]
Para demonstran berkumpul di Times Square untuk memperingati Hari Al-Quds di Manhattan, New York, Amerika Serikat, 13 Maret 2026 [David ‘Dee’ Delgado/Reuters]

PROKAL.CO- Hari ke-16 agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran ditandai dengan eskalasi serangan yang semakin meluas hingga ke jantung kota-kota besar dan wilayah pemukiman. Sejak operasi dimulai pada 28 Februari lalu, situasi geopolitik di Timur Tengah kini berada pada titik paling kritis dengan keterlibatan langsung berbagai negara teluk. Berikut adalah rangkuman peristiwa penting dalam 24 jam terakhir. 

Serangan Udara dan Dampak Kerusakan di Iran

Intensitas serangan udara AS-Israel dilaporkan meningkat tajam, menyasar pusat-pusat industri dan area padat penduduk. Misalnya saja di kota Isfahan dan Shiraz. Kota industri Isfahan dihantam serangan yang menewaskan sedikitnya 15 orang. Sementara itu, wilayah pemukiman di Shiraz juga menjadi sasaran, yang oleh media lokal disebut sebagai tindakan "anti-kemanusiaan."

Gubernur Teheran melaporkan sedikitnya 10.000 rumah tinggal rusak atau hancur total. Total korban tewas di pihak Iran sejak awal perang kini telah melampaui 1.400 jiwa. Iran mengonfirmasi tewasnya Brigadir Jenderal Abdullah Jalali Nasab. Ia menambah daftar panjang petinggi militer Iran yang gugur, termasuk Panglima IRGC dan Menteri Pertahanan.

Balasan Iran dan Eskalasi di Kawasan Teluk

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak tinggal diam dengan meluncurkan "gelombang serangan ke-50" yang menargetkan pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Kuwait.

Misalnya Arab Saudi: Menghadapi ancaman serius setelah mencegat drone di wilayah metropolitan Riyadh dan rudal balistik di provinsi Timur.

Kemudian Selat Hormuz: Komandan Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut belum ditutup sepenuhnya, namun saat ini berada di bawah kendali ketat militer Iran.

Soal kondisi pemimpin tertinggi, menanggapi spekulasi AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam kondisi baik dan tidak terluka.

Situasi di Lebanon dan Israel

Di Lebanon, serangan udara Israel di Lebanon selatan telah menewaskan 826 orang dan memaksa 800.000 warga mengungsi sejak akhir Februari. WHO melaporkan 14 petugas kesehatan tewas dalam satu hari terakhir.

Sementara di Israel, sirene terus berbunyi di Israel tengah akibat rentetan rudal balistik dari Iran dan Hizbullah. Muncul laporan bahwa Israel mulai kehabisan stok rudal pencegat (interceptor) untuk menghadapi intensitas serangan yang tak kunjung reda.

Diplomasi dan Pernyataan Donald Trump

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Teheran mulai menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi, namun ia bersikeras bahwa syarat yang diajukan belum cukup kuat. Trump terus mendorong pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk mengamankan Selat Hormuz, meski negara sekutu seperti Jepang menyatakan keberatan karena risiko yang terlalu tinggi. Di dalam negeri AS, dukungan terhadap perang ini mulai goyah. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 53% pemilih AS menentang serangan tersebut, dan mayoritas besar tidak setuju jika militer AS menerjunkan pasukan darat ke Iran. (*)

Editor : Indra Zakaria