PROKAL.CO- Ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran kini memasuki babak baru yang membingungkan. "Iran ingin membuat kesepakatan, tapi saya tidak ingin melakukannya karena syarat-syaratnya belum cukup baik," ujar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam wawancaranya bersama NBC.
Dilansir Bloomberg, ia mengklaim bahwa Iran telah menunjukkan keinginan kuat untuk mengakhiri perang, namun ia menegaskan bahwa setiap perjanjian yang solid harus mencakup komitmen total Teheran untuk meninggalkan ambisi nuklirnya. "Setiap kesepakatan harus sangat solid," tambah Trump guna mempertegas posisi tawar Amerika Serikat yang masih enggan memberikan lampu hijau bagi proses negosiasi.
Namun, klaim sepihak tersebut segera dibayangi oleh bantahan dari pihak Teheran. "Hingga hari ini, belum ada proposal spesifik yang dipresentasikan kepada kami," tegas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah wawancara dengan Al-Araby Al-Jadeed. Meski demikian, ia menyatakan bahwa Republik Islam tetap membuka pintu bagi upaya perdamaian. "Kami terbuka terhadap inisiatif regional apa pun yang mengarah pada akhir perang secara adil," jelas Araghchi, sekaligus menunjukkan bahwa terdapat ketidaksinkronan informasi mengenai adanya perantara pesan di antara kedua negara.
Di tengah ketidakpastian diplomasi tersebut, pertempuran di lapangan justru semakin memanas, terutama dengan serangan yang menghantam jantung ekonomi Iran di Pulau Kharg. "Sangat jelas bahwa rudal yang menghantam Pulau Kharg diluncurkan dari wilayah Uni Emirat Arab," tuduh Araghchi kepada MS NOW. Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari pihak UEA yang merasa terancam oleh serangan balasan. "Negara kami memiliki hak untuk membela diri menghadapi agresi teroris yang dipaksakan ini, namun kami tetap memprioritaskan akal sehat," balas Anwar Gargash, penasihat kebijakan luar negeri senior UEA, menanggapi klaim Iran tersebut.
Melihat situasi Selat Hormuz yang kian terpuruk, Trump kembali melontarkan seruan kepada komunitas internasional untuk ikut campur tangan. "Kita harus menyapu selat ini dengan sangat kuat, dan kami percaya akan bergabung dengan negara-negara lain yang merasa terhambat dalam mendapatkan minyak," kata Trump. Ia secara spesifik meminta negara-negara seperti China, Jepang, dan Inggris untuk bertindak lebih nyata. "Sangat mungkin bagi kapal-kapal Amerika Serikat untuk mulai mengawal kapal dagang melewati selat tersebut," pungkas Trump, memberikan sinyal bahwa militer AS akan mengambil langkah lebih jauh jika koalisi internasional tidak segera terbentuk. (*)
Editor : Indra Zakaria