PROKAL.CO- Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa infrastruktur minyak vital Iran di Pulau Kharg telah hancur total akibat serangan udara AS. Dalam sebuah wawancara telepon dengan NBC News pada Sabtu lalu, Trump sesumbar mengenai kekuatan militer AS sembari melontarkan pernyataan kontroversial terkait kelanjutan operasi militer tersebut.
"Kami telah menghancurkan Pulau Kharg sepenuhnya," ujar Trump. Namun, ia menambahkan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak dengan mengatakan, "Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang (just for fun)."
Pulau Kharg merupakan pusat ekspor minyak utama Iran yang menjadi urat nadi ekonomi negara tersebut. Meskipun Trump mengklaim kehancuran total, Pentagon melaporkan bahwa AS telah menghabiskan dana fantastis sebesar $11,3 miliar (sekitar Rp178 triliun) hanya untuk amunisi pada minggu pertama perang di Iran.
Tawaran Gencatan Senjata dan Syarat Ketat
Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran sebenarnya telah mengajukan negosiasi gencatan senjata. Namun, sang presiden menyatakan belum setuju karena menganggap persyaratan yang ditawarkan belum cukup menguntungkan bagi Amerika Serikat.
"Iran ingin membuat kesepakatan, tapi saya belum mau karena syaratnya belum cukup baik," tegasnya. Trump menekankan bahwa kesepakatan apa pun nantinya harus "sangat solid" dan mencakup komitmen penuh dari Iran untuk tidak membangun senjata nuklir.
Selain serangan udara, Trump juga mengarahkan fokusnya pada pengamanan Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Ia menyerukan negara-negara sekutu seperti Inggris, Prancis, dan Jepang untuk mengirimkan kapal guna memastikan kelancaran perdagangan minyak yang terhambat akibat konflik.
AS berencana melakukan patroli besar-besaran di selat tersebut, bahkan Trump membuka kemungkinan kapal perang AS akan mulai mengawal kapal-kapal dagang melewati jalur tersebut.
Perang yang memasuki minggu ketiga ini telah memakan korban jiwa yang signifikan. Tercatat 13 anggota layanan AS gugur, sementara di pihak Iran, lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas. Angka ini mencakup setidaknya 175 anak-anak dan staf sekolah yang hancur, yang diduga akibat bom AS, meski Trump sempat menyiratkan tanpa bukti bahwa Iran mungkin bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa durasi perang ini sepenuhnya berada di tangan Trump. "Presiden telah menetapkan misi spesifik, dan tugas kami adalah melaksanakannya tanpa henti," ujar Hegseth dalam pengarahan di Pentagon. (*)
Editor : Indra Zakaria