Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

90 Persen Pasokan Minyak Terancam, Jepang Siap Kirim Pasukan Bela Diri ke Timur Tengah?

Redaksi Prokal • 2026-03-17 13:30:00

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada hari Selasa bahwa dia menominasikan Presiden Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian. (AP).
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada hari Selasa bahwa dia menominasikan Presiden Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian. (AP).

 

PROKAL.CO - Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, menegaskan komitmen Tokyo untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan komunitas internasional guna menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz. Kesepakatan ini tercapai dalam pembicaraan telepon antara Motegi dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Senin (16/3), di tengah krisis yang kian memanas di Timur Tengah.

Langkah ini diambil mengingat posisi krusial Selat Hormuz bagi ketahanan energi Jepang. Saat ini, lebih dari 90 persen impor minyak mentah Negeri Sakura berasal dari kawasan Timur Tengah, yang mayoritas pengirimannya bergantung pada jalur sempit tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, Rubio menjelaskan sikap dan upaya strategis Washington dalam menghadapi konflik di kawasan. Kedua menteri sepakat untuk terus menjaga komunikasi intensif, terutama menjelang pertemuan penting antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis mendatang.

“Jepang akan bekerja sama dengan AS dan negara lain untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz,” ujar Motegi sebagaimana dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Jepang.

Konflik yang kini memasuki pekan ketiga telah memicu penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran. Penutupan ini merupakan reaksi atas rentetan serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel sejak akhir bulan lalu. Mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur ini, gangguan di wilayah tersebut menjadi ancaman serius bagi ekonomi global.

Bagi Tokyo, upaya pengiriman aset maupun personel Pasukan Bela Diri (SDF) ke luar negeri tetap menjadi isu domestik yang sensitif karena batasan konstitusi. Namun, pemerintah memiliki opsi untuk memerintahkan kapal SDF melakukan operasi keamanan maritim guna mengawal kapal-kapal yang berafiliasi dengan Jepang, dengan aturan penggunaan senjata yang sangat terbatas.

Selain berkoordinasi dengan Washington, Motegi juga menjalin komunikasi paralel dengan mitra diplomatiknya di kawasan Teluk. Ia melakukan pembicaraan terpisah dengan Menlu Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, dan Menlu Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan.

Dalam diskusi tersebut, para menteri menekankan pentingnya deeskalasi situasi demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Selain aspek logistik minyak, fokus utama diplomasi Jepang saat ini adalah memastikan keselamatan warga negara mereka yang berada di kawasan konflik tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria