TEHERAN – Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini telah mencapai fase yang sangat mematikan dengan skala korban jiwa yang terus membengkak setiap jamnya. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan catatan kelam di mana sedikitnya 1.444 orang telah dinyatakan tewas, sementara 18.551 lainnya menderita luka-luka sejak konflik bersenjata ini pecah.
Di Lebanon, otoritas setempat mengonfirmasi 886 kematian, sementara di pihak Israel, setidaknya 12 orang dilaporkan tewas. Angka-angka ini mencerminkan betapa mahalnya harga nyawa yang harus dibayar dalam eskalasi militer yang tidak hanya menghancurkan infrastruktur vital, tetapi juga memicu gelombang pengungsian masif. Lebih dari satu juta warga Lebanon kini terpaksa meninggalkan rumah mereka, diikuti oleh ratusan ribu warga Iran yang nasibnya kini terkatung-katung di tengah medan tempur.
Militer Amerika Serikat pun tidak luput dari duka, dengan Pentagon melaporkan kematian 13 personel militernya sejauh ini, termasuk enam tentara yang gugur dalam kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak. Selain itu, sekitar 200 warga Amerika dilaporkan terluka dalam berbagai insiden serangan. Di tengah duka yang mendalam ini, ketegangan justru merembet ke urat nadi ekonomi dunia di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran yang mengalirkan seperlima minyak dunia tersebut kini dipenuhi ranjau laut, memicu lonjakan harga minyak mentah hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Dampak ekonomi ini mulai dirasakan masyarakat global melalui kenaikan harga BBM yang tajam dan ancaman inflasi pangan, seolah menambah penderitaan bagi masyarakat sipil yang sudah terjepit oleh kengerian perang.
Di panggung diplomasi, Presiden Donald Trump berusaha menggalang kekuatan dengan mendesak negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang guna mengawal kapal dagang melalui Selat Hormuz. Namun, seruan tersebut dijawab dengan penolakan keras oleh Jepang, Italia, Australia, hingga Jerman. Menteri Pertahanan Jerman menegaskan bahwa konflik ini bukanlah perang mereka, sebuah pernyataan yang menggarisbawahi keretakan hubungan diplomatik di tengah krisis. Sementara itu, tujuan akhir dari serangan Amerika Serikat masih terlihat samar dan penuh ketidakpastian, mulai dari isu penghancuran fasilitas nuklir hingga upaya penggantian rezim. Donald Trump bahkan secara terbuka menyatakan keinginannya untuk terlibat dalam penentuan penerus mendiang Ayatollah Ali Khamenei guna mencari sosok yang ia nilai mampu membawa harmoni di kawasan.
Ketidakpastian ini diperparah dengan pernyataan dari militer Israel yang mengisyaratkan kesiapan untuk terus bertempur selama berminggu-minggu ke depan atau bahkan lebih lama jika diperlukan. Ironisnya, di tengah biaya militer langsung yang telah menelan dana sebesar 12 miliar dolar AS dalam dua minggu pertama, dukungan publik justru berbanding terbalik. Berbagai jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika menentang serangan awal terhadap Iran dan meyakini bahwa keterlibatan dalam perang ini tidak membuat posisi Amerika Serikat menjadi lebih aman. Pada akhirnya, di balik angka statistik ekonomi dan strategi militer yang rumit, korban jiwa yang terus berjatuhan tetap menjadi wajah paling nyata dari tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Timur Tengah saat ini. (*)
Editor : Indra Zakaria