WASHINGTON – Kabar mengejutkan datang dari jalur urat nadi energi dunia. Data pelacakan kapal terbaru menunjukkan bahwa Iran mulai melonggarkan blokade di Selat Hormuz bagi sejumlah kapal komersial tertentu. Langkah ini muncul di tengah klaim Teheran bahwa jalur tersebut kini hanya terbuka bagi pihak yang mereka anggap sebagai mitra, sementara bagi "musuh", gerbang tetap terkunci rapat.
Berdasarkan data intelijen maritim dari Windward, jumlah kapal yang transit di Selat Hormuz meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin lalu, terdeteksi delapan kapal non-bendera Iran yang melintasi jalur kritis tersebut—sebuah angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya sejak perang pecah.
Izin Khusus untuk Tiongkok dan India?
Analis maritim Michelle Wiese Bockmann mencatat adanya pola menarik dalam pergerakan ini. Kapal-kapal tersebut terlihat melakukan pengalihan rute melalui perairan teritorial Iran, yang mengindikasikan adanya izin khusus dari Teheran.
"Kapal-kapal yang berafiliasi dengan Barat tidak akan berani masuk ke perairan Iran secara sukarela. Namun, kapal-kapal dari Tiongkok, India, dan negara sahabat lainnya kemungkinan besar mendapatkan lampu hijau," jelas Bockmann. Sebelum perang, jalur ini menampung seperlima pasokan minyak global, namun aktivitasnya sempat anjlok hingga 95% sejak akhir Februari.
Trump "Banting Pintu" untuk NATO
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan pedas di Ruang Oval. Meskipun ia mengakui bahwa pembukaan jalur pelayaran adalah prioritas, Trump menegaskan bahwa Washington tidak lagi membutuhkan bantuan internasional—terutama dari sekutu NATO yang sebelumnya menolak proposal koalisi kapal perang AS.
"Meskipun kita telah banyak membantu mereka (NATO), mereka tidak mau membantu kita. Ini luar biasa," ujar Trump saat bertemu Perdana Menteri Irlandia. Ketegangan diplomatik ini semakin memperumit upaya pemulihan stabilitas ekonomi dunia, di mana harga minyak kini masih bertengger di atas $100 per barel.
Sinyal pelonggaran dari Iran tampaknya tidak menyurutkan tekanan militer Amerika Serikat. Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah menjatuhkan bom penghancur bunker (bunker buster) ke situs-situs rudal Iran yang dianggap "terbentengi" di dekat selat.
Serangan udara ini menyasar rudal anti-kapal Iran yang dinilai menjadi ancaman langsung bagi pelayaran internasional. "Rudal-rudal ini adalah risiko nyata yang harus dilumpuhkan," tulis CENTCOM melalui akun resminya.(*)
Editor : Indra Zakaria