DUBAI – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai level baru setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyerukan kewaspadaan dan koordinasi regional dalam panggilan telepon terpisah dengan rekan-rekannya di Turki, Mesir, dan Pakistan pada Kamis (19/3). Langkah diplomatik ini diambil setelah fasilitas energi vital Iran di ladang gas South Pars dan Asaluyeh menjadi target serangan pada hari Rabu.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah melakukan pembalasan terhadap apa yang mereka sebut sebagai situs energi yang terkait dengan Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Salah satu target yang disebutkan adalah Kota Industri Ras Laffan di Qatar, yang dikenal sebagai kompleks LNG terbesar di dunia.
"Dalam pembicaraan dengan para koleganya, Araqchi menilai serangan AS dan rezim Zionis (Israel) terhadap infrastruktur Iran sebagai tindakan yang bertujuan untuk memicu eskalasi ketegangan dan mendestabilisasi kawasan," lapor media pemerintah setempat.
Sejalan dengan langkah diplomasi tersebut, militer Iran mengeluarkan peringatan keras. Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi mereka telah menandai "tahap baru dalam perang". Iran kini secara terbuka menargetkan fasilitas energi yang berafiliasi dengan kepentingan dan investor Amerika di wilayah tersebut.
"Jika serangan terhadap infrastruktur energi kami terjadi lagi, serangan balasan terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai benar-benar hancur. Respon kami berikutnya akan jauh lebih parah," tegas Ebrahim Zolfaqari, juru bicara militer Iran.
Konflik ini dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas pasokan energi global, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Hingga berita ini diturunkan, komunitas internasional terus memantau pergerakan militer di Selat Hormuz dan sekitarnya guna mengantisipasi dampak lebih luas dari perang energi yang sedang berkecamuk. (*)
Editor : Indra Zakaria