HONG KONG – Meskipun wilayah perairan Selat Hormuz secara efektif dinyatakan tertutup akibat perang yang berkecamuk sejak awal Maret, data maritim terbaru menunjukkan fenomena mengejutkan. Setidaknya 90 kapal, termasuk kapal tanker minyak, dilaporkan berhasil melintasi jalur krusial tersebut di bawah pengawasan ketat militer Iran.
Berdasarkan data dari Lloyd’s List Intelligence, banyak dari kapal yang melintas melakukan "transit gelap" atau mematikan sistem pelacakan untuk menghindari sanksi Barat. Iran sendiri diperkirakan telah berhasil mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak sejak awal Maret, dengan Tiongkok sebagai pembeli utama yang memanfaatkan hubungan dekatnya dengan Teheran.
"Ada ketahanan yang berkelanjutan dalam volume ekspor minyak Iran. Mereka berhasil menjaga nadi ekspornya sendiri sambil mengendalikan titik sumbat (jalur distribusi) dunia," ujar Ana Subasic, analis risiko perdagangan dari Kpler, Kamis (19/3).
Diplomasi di Balik Jalur Hijau
Tidak hanya kapal yang berafiliasi dengan Iran, beberapa kapal dari India dan Pakistan juga terpantau berhasil melewati selat tersebut setelah adanya negosiasi diplomatik tingkat tinggi. Tanker Karachi milik Pakistan serta kapal pengangkut LPG Shivalik dan Nanda Devi dari India dilaporkan melintas dengan aman.
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengonfirmasi bahwa izin melintas tersebut didapat setelah pembicaraan intensif dengan pihak Teheran. Hal ini memperkuat dugaan para analis bahwa Iran telah menciptakan "koridor aman" selektif bagi negara-negara yang dianggap netral atau mitra strategis.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus menekan sekutunya untuk mengirim kapal perang guna membuka kembali selat secara penuh. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak yang meroket hingga 40 persen, menembus angka 100 dolar AS per barel.
Menariknya, meskipun AS sempat membom situs militer di Pulau Kharg, Trump memilih untuk tidak menyentuh infrastruktur minyak Iran demi menjaga stabilitas pasokan dunia. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan menyatakan bahwa pihaknya sengaja membiarkan beberapa tanker Iran keluar untuk menyuplai kebutuhan energi global.
"Selat Hormuz saat ini tidak bisa disebut benar-benar tertutup. Lebih tepat jika dikatakan tertutup secara selektif bagi lalu lintas tertentu, namun tetap berfungsi untuk ekspor Iran dan pergerakan non-Iran yang ditoleransi," jelas Kun Cao, direktur konsultan Reddal.
Situasi ini menempatkan ekonomi dunia dalam posisi rentan. Jika Iran memutuskan untuk semakin memperketat seleksi kapal yang boleh melintas guna memberikan "tekanan ekonomi" lebih besar, harga energi diprediksi akan terus merangkak naik ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.(*)
Editor : Indra Zakaria