ISLAMABAD – Kabar sejuk berembus dari perbatasan Asia Selatan menjelang akhir Ramadan tahun ini. Pemerintah Afghanistan dan Pakistan secara resmi sepakat untuk menghentikan sementara operasi militer mereka mulai Rabu (18/3) malam. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap hari suci umat Islam, Hari Raya Idulfitri 1447 H.
Kesepakatan ini menjadi oase di tengah situasi yang sempat memanas. Hanya berselang beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 13 Maret, ketegangan sempat memuncak ketika serangan udara Pakistan menghantam wilayah Kabul, Kandahar, Paktia, dan Paktika. Insiden tersebut sempat memicu kekhawatiran dunia internasional akan meletusnya perang skala penuh di kawasan tersebut.
Juru bicara pemerintah Emirat Islam Afghanistan, Zabiullah Mujahid, mengumumkan melalui platform X bahwa pihaknya secara resmi menangguhkan 'Operasi Pertahanan (Rad-ul Zulm)'. Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memberikan ruang bagi umat Muslim di kedua negara untuk merayakan hari kemenangan dengan tenang dan khusyuk.
Senada dengan itu, Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi penghentian serangan dari pihak Islamabad. Meski demikian, Pakistan tetap memberikan catatan tegas agar gencatan senjata ini tidak disalahgunakan.
"Pakistan menawarkan isyarat ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam. Namun, jika terjadi serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden teroris apa pun, 'Operasi Ghazab-lil-Haq' akan segera dilanjutkan dengan intensitas yang lebih kuat," tegas Tarar.
Lahirnya kesepakatan ini tidak lepas dari peran krusial para mediator internasional. Ketegangan yang mereda ini merupakan buah dari diplomasi intensif yang dilakukan oleh Arab Saudi, Turki, dan Qatar.
Ketiga negara tersebut bekerja keras di balik layar: Arab Saudi memfasilitasi komunikasi tingkat tinggi antar-pemimpin, Turki menyediakan jalur diplomasi yang netral, sementara Qatar bertindak sebagai penengah utama dalam negosiasi meja bundar. Berkat upaya kolektif ini, kedua negara yang bertikai bersedia menurunkan senjata demi kemanusiaan dan nilai-nilai religius.
Kini, fokus beralih pada stabilitas di lapangan. Meski gencatan senjata bersifat sementara, banyak pihak berharap momentum Idulfitri ini bisa menjadi titik awal bagi dialog perdamaian yang lebih permanen di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria