PROKAL.CO- Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran. Pada Sabtu (21/3), Trump memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional atau menghadapi kehancuran total infrastruktur energinya.
Ancaman ini muncul hanya sehari setelah Trump sempat menyatakan keinginan untuk "meringankan" operasi militer, namun situasi berbalik drastis seiring macetnya jalur minyak dunia dan pengiriman ribuan Marinir AS ke wilayah tersebut.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menegaskan bahwa militer AS akan "menghantam dan melenyapkan" pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, jika selat tersebut tidak dibuka sepenuhnya paling lambat Senin malam pukul 23:44 GMT. Menanggapi gertakan tersebut, pihak militer Iran melalui kantor berita Fars menyatakan kesiapan mereka untuk membalas dengan menargetkan infrastruktur energi dan desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berdalih bahwa pembatasan hanya berlaku bagi kapal dari negara-negara yang terlibat serangan terhadap negaranya.
Pemicu kemarahan Washington kali ini adalah serangan rudal paling destruktif dari Teheran yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel. Rudal-rudal tersebut menghantam kota Arad dan Dimona—lokasi yang diyakini sebagai pusat persenjataan nuklir Israel—menyebabkan lebih dari 100 orang terluka, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang dalam kondisi kritis. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut malam itu sebagai "malam yang sangat sulit", langsung memerintahkan gelombang serangan balasan udara ke jantung kota Teheran.
Eskalasi ini telah memicu guncangan ekonomi global dengan harga minyak mentah Brent melonjak melampaui $105 per barel. Selain menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur seperlima perdagangan minyak mentah dunia, Iran juga dilaporkan meluncurkan serangan rudal balistik jarak jauh yang menargetkan pangkalan AS-Inggris di Diego Garcia, sekitar 4.000 kilometer jauhnya. Meski serangan ke Diego Garcia gagal, manuver ini menunjukkan daya tahan dan jangkauan militer Iran yang di luar ekspektasi para analis Barat, bahkan setelah kehilangan pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei, beberapa pekan lalu.
Di tengah suasana Idulfitri yang mencekam di Teheran, dunia kini menanti dengan cemas berakhirnya tenggat waktu 48 jam yang ditetapkan Trump. Pemimpin sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, hingga Korea Selatan telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk penutupan Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut. Jika diplomasi buntu dalam 48 jam ke depan, Timur Tengah terancam terjerumus ke dalam perang terbuka yang jauh lebih luas dan menghancurkan.(*)
Editor : Indra Zakaria