Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

PM Jepang Sanae Takaichi Janjikan Upaya Diplomatik Maksimal Redakan Ketegangan di Selat Hormuz

Redaksi Prokal • Selasa, 24 Maret 2026 - 18:15 WIB

Sanae Takaichi
Sanae Takaichi

 

TOKYO – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengerahkan seluruh kekuatan diplomasi guna meredakan ketegangan yang kian membara di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Takaichi di hadapan parlemen Jepang pada Senin (23/3), menyusul eskalasi konflik antara aliansi Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang telah mengganggu jalur distribusi energi global.

"Kami terus bekerja sama dengan komunitas internasional dan akan melakukan segala upaya diplomatik yang mungkin," tegas Takaichi sebagaimana dikutip dari Kyodo News. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pertemuan puncak yang ia jalani bersama Presiden AS Donald Trump di Washington pekan lalu, di mana Trump secara eksplisit menuntut Jepang untuk mengerahkan kekuatan angkatan lautnya guna bergabung dalam operasi militer pembukaan Selat Hormuz.

Takaichi mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Trump menekankan betapa pentingnya memastikan keamanan navigasi di jalur air yang kini berada di bawah kendali efektif Iran. Menanggapi permintaan pengerahan militer tersebut, Takaichi memberikan jawaban yang sangat hati-hati dengan mempertimbangkan batasan hukum di dalam negerinya.

"Saya menjawab dengan mengatakan bahwa saya juga menyadari bahwa memastikan keselamatan navigasi penting dari perspektif pasokan energi yang stabil, dan menjelaskan secara rinci apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan dalam lingkup hukum negara kita," jelas Takaichi melalui laporan penyiar publik NHK. Sebagaimana diketahui, konstitusi pasifis Jepang yang menolak perang melarang negara tersebut terlibat dalam pertempuran aktif di luar negeri, sebuah batasan hukum yang kini menjadi tantangan besar di tengah tuntutan sekutu utamanya.

Situasi ini menjadi sangat genting bagi Tokyo mengingat hampir 90 persen pasokan energi Jepang bergantung sepenuhnya pada stabilitas Selat Hormuz. Saat ini, kapal-kapal tanker Jepang terus terdampak oleh konflik, memaksa pemerintah untuk mulai melepaskan cadangan minyak strategis guna memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak.

Sebagai langkah antisipasi terhadap kebuntuan di Timur Tengah, Tokyo dilaporkan mulai melirik sumber energi alternatif di luar kawasan konflik. Kyodo News melaporkan bahwa Jepang sedang mempertimbangkan untuk membeli minyak mentah dari Kazakhstan melalui perusahaan eksplorasi Inpex Corp yang didukung negara. Meskipun pengangkutan dari Kazakhstan akan memakan waktu lebih lama dan menelan biaya pengadaan yang lebih tinggi karena faktor jarak, langkah ini dipandang perlu untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Hormuz.

Selain Kazakhstan, Inpex juga tengah menjajaki peluang bisnis serupa dengan Azerbaijan dan Australia guna mengamankan hak atas minyak mentah dan gas alam. Upaya diversifikasi ini menjadi sangat mendesak sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu memicu aksi balasan rudal dan drone dari Teheran, yang tidak hanya menelan ribuan korban jiwa tetapi juga mengganggu stabilitas pasar global dan penerbangan internasional secara masif.(*)

Editor : Indra Zakaria