Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Trump Klaim Perubahan Rezim di Iran, dan Sinyal Damai di Tengah Kobaran Perang di Selat Hormuz

Indra Zakaria • Senin, 30 Maret 2026 - 21:00 WIB

Selat Hormuz
Selat Hormuz

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan mengejutkan dengan mengklaim bahwa tujuan "perubahan rezim" (regime change) di Iran telah tercapai. Di atas pesawat Air Force One, Minggu (29/3), Trump menyebut bahwa kepemimpinan baru di Teheran saat ini jauh lebih "masuk akal" dan membuka peluang terjadinya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Klaim sepihak ini muncul di tengah fakta lapangan yang kian membara. Saat Trump menebar optimisme kesepakatan, Iran justru meluncurkan serangan balasan ke fasilitas energi di Kuwait dan Arab Saudi. Serangan di Kuwait dilaporkan menewaskan seorang pekerja asal India, sementara militer Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat lima rudal balistik yang menyasar wilayah mereka.

Kondisi di Teheran sendiri kini gelap gulita setelah serangan udara AS-Israel menghantam fasilitas kelistrikan nasional. Warga sipil mulai merasakan dampak hebat dari perang yang telah berlangsung selama satu bulan ini. "Saya merindukan tidur malam yang tenang. Serangan malam hari begitu intens hingga rasanya seluruh Teheran berguncang," ujar seorang seniman lokal kepada AFP.

Pakistan Jadi Jembatan Diplomasi

Di tengah kebuntuan, secercah harapan muncul dari Islamabad. Pemerintah Pakistan secara aktif memosisikan diri sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan bahwa baik AS maupun Iran telah memberikan kepercayaan kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan damai yang juga didukung oleh China dan PBB.

Namun, tawaran diplomasi ini ditanggapi dengan kecurigaan mendalam oleh parlemen Iran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington menggunakan retorika dialog hanya sebagai "tabir asap" untuk menutupi rencana invasi darat. Ia memperingatkan bahwa pasukan Iran telah bersiap untuk "membakar" tentara Amerika jika mereka berani menginjakkan kaki di daratan Iran.

Ketegangan ini telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi dunia. Dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran bagi kapal-kapal negara seteru, harga minyak mentah dunia meroket tajam. Pada Senin pagi, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali melampaui angka 100 USD per barel, sementara jenis Brent melonjak di atas 115 USD.

Meski Trump terus menyuarakan jalur diplomasi, pengerahan kekuatan militer AS ke Timur Tengah justru semakin masif. Kedatangan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa 3.500 Marinir pada Jumat lalu memperkuat spekulasi adanya rencana operasi darat terbatas di titik-titik strategis Selat Hormuz. Dunia kini menanti apakah klaim kesepakatan "segera" milik Trump akan menjadi kenyataan, atau justru menjadi pembuka bagi babak perang darat yang lebih berdarah. (*)

Editor : Indra Zakaria