JENEWA – Dunia sempat dikejutkan dengan laporan munculnya wabah virus di atas kapal pesiar mewah MV Hondius. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bergerak cepat untuk meredakan kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah awal dari pandemi baru yang akan melumpuhkan dunia sebagaimana Covid-19 enam tahun silam.
Hingga Kamis (7/5/2026) waktu setempat, otoritas kesehatan mengonfirmasi adanya lima kasus positif dari delapan suspek hantavirus di kapal tersebut. Tragedi ini telah merenggut tiga nyawa, termasuk pasangan suami istri asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman. Investigasi mendalam kini tengah dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian para korban.
Epidemiolog penyakit menular WHO, Maria van Kerkhove, menjelaskan bahwa karakteristik hantavirus sangat berbeda dengan virus corona yang menyebar masif melalui udara. Menurutnya, virus ini memerlukan interaksi yang jauh lebih spesifik untuk bisa berpindah dari satu individu ke individu lainnya.
“Ini bukan situasi seperti Covid-19 karena penularannya terjadi melalui kontak dekat dan intim,” tegas Maria van Kerkhove dalam konferensi pers di Jenewa.
Meskipun risiko kesehatan global dinilai masih rendah, kasus ini tetap menjadi perhatian serius para ahli. Hal ini dikarenakan untuk pertama kalinya terdokumentasi adanya potensi penularan antarmanusia dalam wabah terbaru ini. Biasanya, hantavirus hanya menyebar melalui kontak dengan kotoran atau air liur hewan pengerat (tikus) yang terhirup manusia.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa pelacakan sejarah perjalanan pasien menunjukkan adanya aktivitas pengamatan burung di habitat tikus liar di Amerika Selatan sebelum mereka naik ke kapal.
“Kami terus memantau perkembangan kasus sambil berkoordinasi dengan berbagai negara terkait,” ujar Dr. Tedros.
Kapal MV Hondius sendiri mengangkut sekitar 150 penumpang dan kru dari 28 negara berbeda. Mengingat masa inkubasi virus yang cukup lama, yakni mencapai enam minggu, WHO memperingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan. Sebagai langkah pencegahan, seluruh orang di atas kapal diwajibkan menggunakan masker, sementara petugas medis diminta menggunakan alat pelindung diri (APD) tingkat tinggi saat menangani pasien suspek.
Pihak operator kapal, Oceanwide Expeditions, melaporkan bahwa puluhan penumpang telah turun di Pulau St. Helena untuk menjalani protokol kesehatan setempat. Saat ini, otoritas internasional terus berpacu dengan waktu untuk melacak seluruh penumpang yang telah meninggalkan kapal guna memutus rantai penularan di negara asal mereka masing-masing.(*)
Editor : Indra Zakaria