Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Angin Segar Timur Tengah: AS-Iran Sepakati Draf Gencatan Senjata 60 Hari, Selat Hormuz Jadi Kunci

Redaksi Prokal • Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:00 WIB

 

Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2019). (Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa)
Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2019). (Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa)

PROKAL.CO, TEHERAN — Kabar baik datang dari panggung geopolitik dunia setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai nota kesepahaman awal (memorandum of understanding/MOU). Kesepakatan ini ditujukan untuk memberlakukan gencatan senjata selama 60 hari sekaligus diharapkan mampu menjadi jembatan menuju negosiasi permanen demi mengakhiri konflik bersenjata di antara kedua negara. Langkah ini menjadi terobosan diplomatik paling signifikan setelah beberapa pekan terakhir kawasan Teluk terus membara akibat ketegangan politik dan bentrokan militer dalam skala terbatas.

Akses Bebas Selat Hormuz dan Barter Blokade Laut

Berdasarkan laporan yang dikonfirmasi oleh Gedung Putih, salah satu poin paling krusial dalam rancangan MOU tersebut adalah jaminan pembukaan akses bebas bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai timbal balik, Washington bersedia mencabut blokade laut yang selama ini mencekik pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Selat Hormuz memang menjadi komoditas paling panas dalam perundingan ini karena statusnya sebagai urat nadi distribusi minyak bumi global. Iran sempat bersikeras bahwa pengelolaan selat strategis itu harus diatur bersama Oman, termasuk munculnya wacana penerapan tarif bagi kapal lintas jalur. Namun, Amerika Serikat menolak mentah-mentah kontrol sepihak tersebut. Bahkan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat memberi peringatan keras kepada Oman mengenai potensi sanksi jika ikut membantu penarikan pungutan di jalur internasional itu.

Meski draf kesepakatan sudah di depan mata, realisasi penuh gencatan senjata ini masih berada di bawah keputusan akhir Presiden AS Donald Trump. Scott Bessent menambahkan bahwa Trump menggarisbawahi tiga syarat mati yang wajib dipenuhi oleh Teheran jika ingin berdamai. Ketiga syarat tersebut adalah membuka total akses bebas Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, menyerahkan seluruh stok uranium berkadar pengayaan tinggi, serta menghentikan total program pengembangan nuklir dalam bentuk apa pun.

Di sisi lain, pihak Iran menunjukkan respons yang lebih berhati-hati. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa klaim kesepakatan final yang digaungkan pihak Barat saat ini belum sepenuhnya valid. Iran baru akan mengumumkannya secara resmi kepada publik dan mediator mereka, Pakistan, jika draf teks benar-benar telah selesai dinegosiasikan.

Hambatan terbesar saat ini masih berkutat pada isu pembongkaran total program nuklir serta batasan produksi rudal dan drone. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya sejak awal tidak berniat memproduksi senjata pemusnah massal, dan hak pengayaan uranium domestik sebenarnya dilindungi oleh kesepakatan internasional Non-Proliferation Treaty (NPT).

"Kami tidak terlibat dalam diplomasi dengan penghinaan," tegas Pezeshkian, merefleksikan posisi keras Iran yang tidak ingin kebijakan pertahanan nasionalnya diintervensi oleh luar negeri.

Negosiasi krusial ini terpaksa harus berjalan di bawah bayang-bayang situasi regional yang masih sangat rumit. Di saat bersamaan, Israel justru meningkatkan intensitas serangannya ke Lebanon Selatan dan kembali membombardir Beirut. Merespons situasi panas tersebut, kelompok Hizbullah yang disokong Iran turut membalas lewat serangan pesawat tak berawak.

Kondisi ini membuat Teheran meminta agar dinamika keamanan di Lebanon ikut diakomodasi dalam paket perjanjian perdamaian ini. Walau pembicaraan lanjutan mengenai pencabutan sanksi ekonomi AS masih diprediksi akan berjalan alot, kesepakatan awal 60 hari ini setidaknya memberikan napas lega bagi stabilitas ekonomi dan keamanan jalur energi dunia. (*)

 

Editor : Indra Zakaria
#selat hormuz #iran