PROKAL.CO- Gencatan senjata yang sempat membawa angin segar di Timur Tengah sejak April lalu kini hancur berantakan. Eskalasi konflik di kawasan tersebut kembali mencapai titik didih setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal secara besar-besaran ke wilayah Israel pada Minggu waktu setempat. Aksi nekat Teheran ini seketika memicu kepanikan global dan mengancam upaya perdamaian yang selama ini mati-matian dibangun oleh berbagai pihak internasional. Sirene bahaya pun meraung-raung di seantero Israel seiring dengan diaktifkannya sistem pertahanan udara ketat untuk menghalau jatuhnya proyektil mematikan tersebut.
Sumbu ledak dari serangan ini dipicu oleh kekecewaan mendalam Teheran terhadap komitmen Barat. Petinggi Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuduh Amerika Serikat dan sekutunya telah mengkhianati poin-poin penting yang menjadi fondasi terciptanya gencatan senjata. Melalui pernyataan resminya di media sosial X, Ghalibaf menyoroti aksi AS yang masih melanggengkan blokade laut serta membiarkan situasi di Lebanon terus membara. Ia bahkan melayangkan ancaman terbuka bahwa seluruh fasilitas militer Paman Sam di Timur Tengah kini masuk dalam radar bidikan. "Keberadaan pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan kini berpotensi menjadi target sah apabila tekanan militer dan blokade terus berlangsung," tegas Ghalibaf dengan nada memperingatkan.
Sikap keras parlemen tersebut diaminkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang pasang badan atas peluncuran rudal tersebut. Pihak militer elit Iran ini berkilah bahwa serangan ke wilayah Israel masih sah dan berada dalam koridor hukum mereka, mengingat sifat gencatan senjata yang disepakati sebelumnya adalah bersyarat. IRGC mengibaratkan hujan rudal kemarin malam barulah sebuah hidangan pembuka yang bisa berubah menjadi petaka yang jauh lebih besar. Teheran memperingatkan bahwa tingkat kekuatan serangan dapat ditingkatkan secara drastis apabila musuh-musuh mereka nekat melakukan agresi baru atau tidak segera menghentikan tekanan militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.
Kembali pecahnya perang terbuka ini langsung mendapat perhatian serius dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di hadapan awak media, Trump tidak menampik bahwa manuver tak terduga dari Iran ini telah mengacaukan meja perundingan dan mempersulit posisi Washington yang tampaknya salah mengalkulasi nyali Teheran. Kendati demikian, pemimpin nomor satu AS itu memilih untuk tetap memasang wajah optimis di hadapan publik. "Saya meyakini upaya mediasi yang dijalankan Amerika Serikat masih memiliki peluang untuk membawa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan," ujar Trump mencoba meredam spekulasi buruk.
Rapuhnya stabilitas di Timur Tengah ini memang tak lepas dari rumitnya tuntutan kedua belah pihak yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, Iran bersikeras menuntut pencabutan total blokade pelabuhan dan penghentian serangan di Lebanon, sementara AS bersikukuh meminta jaminan mutlak agar Iran mengubur dalam-dalam ambisi pengembangan senjata nuklirnya. Ketegangan ini kian diperparah oleh rumor bahwa Washington berencana memakai dana sitaan milik Iran yang dibekukan untuk membiayai rekonstruksi pascaperang. Rencana itu pun langsung mendapat penolakan mentah-mentah dan kecaman keras dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi. "Aset negara kami bukan barang rampasan perang dan tidak dapat digunakan untuk kepentingan negara lain maupun sekutu Amerika Serikat," pungkas Gharibabadi menutup pintu diplomasi terkait keuangan negaranya.(*)
Editor : Indra Zakaria