PROKAL.CO- Langit malam Timur Tengah kembali membara setelah Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke jantung wilayah Israel pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Serangan udara ini menjadi eskalasi paling serius yang menghancurkan gencatan senjata rapuh kedua negara dalam beberapa bulan terakhir. Sirene tanda bahaya seketika meraung-raung di sejumlah kota besar Israel, memaksa warga berlarian mencari perlindungan. Meski militer Israel mengklaim sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat seluruh rudal tanpa menimbulkan korban jiwa, manuver Teheran ini menjadi sinyal kuat bahwa konfrontasi langsung kini berada di titik yang sangat berbahaya.
Sumbu ledak serangan balasan ini dipicu oleh aksi brutal jet tempur Israel yang kembali menggempur kawasan Dahiyeh di Beirut selatan, Lebanon, pada Minggu sore. Serangan udara di permukiman padat penduduk yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 11 warga sipil lainnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz berdalih bahwa operasi tersebut membidik pusat komando Hizbullah. Namun, bagi Teheran, tindakan itu adalah pelanggaran fatal terhadap kesepakatan damai yang sudah disetujui sebelumnya.
Kemarahan Teheran memuncak karena Israel dianggap telah menantang batasan internasional. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka secara khusus membidik Pangkalan Udara Ramat David di Israel menggunakan rudal balistik sebagai tebusan atas darah warga sipil yang tumpah di Lebanon selatan, seperti di Tyre dan Nabatieh. "Operasi malam ini adalah sebuah peringatan. Jika agresi kembali terulang, respons kami akan lebih luas dan mencakup seluruh target Amerika-Zionis di kawasan," tegas IRGC dalam pernyataan resminya. Pihak Markas Khatam al-Anbiya milik IRGC bahkan menambahkan bahwa Israel telah melampaui semua garis merah yang disepakati.
Sebelum rudal-rudal tersebut melesat, Iran sebenarnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa setiap jengkal serangan baru ke Lebanon tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Kini, setelah serangan peringatan itu terlaksana, para petinggi Iran menegaskan posisi mereka yang tidak akan mundur selangkah pun. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, mengingatkan musuhnya agar segera menahan diri sebelum situasi berubah menjadi neraka jahanam. "Malam ini para agresor telah menerima jawabannya. Setiap tindakan baru akan dibalas dengan respons yang lebih menghancurkan dan biaya yang lebih besar," ujarnya. Senada dengan itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Teheran tidak akan ragu untuk menutup total meja negosiasi dan memilih menghadapi musuh secara frontal di medan perang jika hukum gencatan senjata terus dilecehkan.(*)