Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Iran dan AS Saling Serang, Selat Hormuz Ditutup Lagi

Redaksi Prokal • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:19 WIB
Warga Iran di Tehran.
Warga Iran di Tehran.

PROKAL.CO— Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan militer Amerika Serikat (AS) terlibat aksi saling serang berskala besar. Kontak senjata ini menandai eskalasi militer paling serius di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik.

Dalam pernyataan resminya, IRGC mengumumkan telah membidik belasan titik aset militer Amerika Serikat yang tersebar di Kuwait dan Bahrain. Serangan udara ini menyasar objek-objek vital, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Selain itu, militer Iran juga mengonfirmasi peluncuran gelombang drone yang diarahkan langsung untuk melumpuhkan sistem pertahanan Patriot, fasilitas komunikasi, dan markas Armada Kelima AS di Bahrain.

Langkah ofensif Teheran tersebut diklaim sebagai aksi balasan langsung atas serangan udara yang dilancarkan AS ke wilayah Iran selatan sebelumnya. Markas besar militer Iran menegaskan bahwa pasukan mereka senantiasa siap mengonfrontasi musuh hingga napas terakhir, dan bersumpah tidak akan mundur sampai pihak lawan mendapat ganjaran yang setimpal.

Sementara itu dari kubu seberang, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan rentetan serangan pertahanan diri tambahan terhadap sejumlah target di dalam wilayah Iran. Operasi tersebut dieksekusi atas perintah langsung Presiden Donald Trump dengan alasan membela diri. Melalui platform media sosial X, CENTCOM menyatakan bahwa tindakan ini diambil sebagai respons tegas terhadap agresi Iran yang dinilai tidak beralasan dan terus berlanjut.

Sebelum perintah penyerangan diturunkan, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sudah memberikan peringatan keras bahwa operasi militer Washington akan berlangsung sangat kuat, jelas, dan berfokus pada fasilitas-fasilitas utama di Iran. Keputusan Presiden Trump untuk meningkatkan skala serangan ini dilaporkan dipicu oleh insiden ditembak jatuhnya sebuah helikopter Apache milik AS oleh pasukan Iran pada awal pekan. Insiden tersebut menjadi pemantik terbaru dari ketegangan berbulan-bulan yang telah bergejolak sejak akhir Februari, saat serangan bersama AS dan Israel memicu siklus konfrontasi militer tanpa henti.

Hingga saat ini, laporan dari lapangan menyebutkan bahwa operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran masih terus berlangsung. Di tengah berkecamuknya konflik, situasi di jalur laut strategis justru diwarnai oleh saling klaim yang bertolak belakang.

Pihak Iran secara sepihak mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz bagi seluruh perlintasan kapal di tengah meningkatnya permusuhan. Namun, klaim penutupan jalur logistik global tersebut segera dibantah oleh CENTCOM. Pihak militer AS menegaskan bahwa kapal-kapal komersial internasional tetap melintas dengan aman keluar-masuk selat, sekaligus membantah klaim Iran mengenai adanya bentrokan laut serta kerusakan pada kapal perang Amerika Serikat. (*)

Editor : Indra Zakaria
#selat hormuz #as #iran