TEHERAN- Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih yang mengkhawatirkan masyarakat internasional. Pemerintah Iran secara terbuka melayangkan ancaman keras akan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk protes dan respons langsung terhadap rentetan serangan udara Israel di Lebanon yang tak kunjung mereda, meskipun kesepakatan gencatan senjata sementara sebelumnya telah disepakati.
Langkah sepihak dari Teheran ini diprediksi mengancam stabilitas ekonomi dunia sekaligus berpotensi merusak jembatan diplomasi yang tengah dibangun bersama Amerika Serikat. Angkatan bersenjata elite Teheran pun langsung memasang kuda-kuda kokoh di garda terdepan jalur laut tersebut.
"Kapal-kapal dagang maupun tanker internasional diperingatkan untuk tidak mendekati jalur strategis ini," bunyi maklumat tegas dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) saat memberikan peringatan keras kepada dunia rapuh di kawasan tersebut.
Ancaman penguncian Selat Hormuz—yang mencakup urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas cair global—disebut Iran sebagai konsekuensi logis atas kebebalan Israel yang terus melanggar komitmen penghentian konflik di Lebanon. Kendati gertakan ini memicu kepanikan pasar energi, pihak Washington bergerak cepat meredam situasi.
"Selat Hormuz belum ditutup dan seluruh lalu lintas kapal komersial di sana terpantau masih berjalan normal. Kami akan terus memantau dengan ketat kondisi keamanan di kawasan vital tersebut," tegas Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataan resminya untuk membantah klaim penutupan jalur laut itu.
Saling gertak ini ironisnya terjadi tepat menjelang babak baru meja perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Negosiasi krusial tersebut sejatinya dirancang untuk memperluas perjanjian awal yang membahas pembatasan program nuklir Iran serta formula damai jangka panjang demi menyudahi pertumpahan darah di Lebanon.
Namun, bara api perseteruan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah yang disokong penuh oleh Iran kini menjelma menjadi tembok besar dalam proses meja diplomasi tersebut. Situasi di Lebanon kian rumit dan berdarah setelah operasi udara Israel dilaporkan kembali merenggut puluhan nyawa warga sipil di wilayah selatan. Bagi Teheran, tidak ada kata damai di Swiss jika peluru masih bersarang di Lebanon.
"Penghentian total konflik bersenjata di Lebanon adalah harga mati dan faktor paling krusial bagi keberhasilan kesepakatan yang sedang kami bahas bersama Amerika Serikat," cetus pihak berwenang Iran menutup diplomasi sepihak mereka.
Kini, mata komunitas internasional tertuju lekat pada Selat Hormuz. Jika diplomasi di Swiss menemui jalan buntu dan Iran benar-benar nekat menggembok jalur logistik energi tersebut, maka krisis keamanan global dan guncangan ekonomi baru dipastikan tinggal menunggu waktu. (*)
Editor : Indra Zakaria