Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mulai Muak, Ribuan Warga Turun ke Jalan Desak Netanyahu Mundur dan Hentikan Perang Tanpa Arah

Redaksi Prokal • Rabu, 24 Juni 2026 | 10:45 WIB
Demo warga Israel.
Demo warga Israel.
  
TEL AVIV – Gelombang protes besar-besaran kembali mengguncang Israel. Ribuan warga tumpah ruah ke jalan-jalan di berbagai kota besar untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi unjuk rasa yang meluas ini mencerminkan puncak kekecewaan dan ketidakpuasan publik yang kian mendalam terhadap masa depan negara di bawah kepemimpinan pemerintah saat ini.

Demonstrasi masif tersebut dilaporkan serentak mengepung kota Tel Aviv, Yerusalem, Karkur, Afula, Rosh Pina, Nahariya, hingga Beersheba. Para pengunjuk rasa menyuarakan mosi tidak percaya dan menilai kabinet Netanyahu telah gagal total dalam menangani dampak serangan 7 Oktober. Pemerintah juga dituding tidak memiliki strategi nasional yang jelas serta sengaja memperpanjang perang tanpa tujuan akhir yang pasti.

Di Tel Aviv, Lapangan Habima menjadi pusat lautan massa dengan estimasi sekitar seribu orang berkumpul dalam satu titik aksi. Sementara itu, ketegangan sempat bergejolak di Yerusalem saat aparat kepolisian menyita mikrofon dan pengeras suara para demonstran di dekat kediaman resmi perdana menteri dengan dalih melanggar aturan kebisingan.

Panggung demonstrasi mendadak hening dan emosional saat Karmit Palti Katzir, seorang anggota keluarga korban serangan 7 Oktober, naik memberikan orasi. Ayah Katzir tewas dalam serangan tersebut, sedangkan ibu dan saudara laki-lakinya sempat disandera di Gaza.

Katzir membakar semangat massa dengan memaparkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar rakyat akibat konflik yang tak kunjung usai ini.

"Kami telah kehilangan lebih dari seribu warga Israel, dan puluhan ribu lainnya masih menanggung luka fisik maupun mental," ujar Katzir dengan nada tegang di hadapan massa. Ia secara blak-blakan menuduh Netanyahu sengaja memelihara konflik bersenjata ini bukan demi keselamatan warga atau kepentingan nasional, melainkan sebagai tameng politik untuk mengamankan kursinya kekuasaannya. Hingga detik ini, pemerintah dianggap gagal menjelaskan kapan dan bagaimana operasi militer ini akan berakhir.

Kritik tajam dari mantan pejabat tinggi negara juga menggema dalam aksi di kota Haifa. Mantan Wakil Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, Eitan Etzion, mewanti-wanti masyarakat agar tidak mudah termakan oleh jargon "persatuan nasional" yang kerap digemborkan menjelang pemilu.

Menurut Etzion, narasi persatuan tersebut rawan disalahgunakan oleh penguasa untuk membungkam kritik, membatasi ruang debat publik, dan melarikan diri dari tanggung jawab atas kegagalan keamanan yang terjadi.

Gelombang protes domestik ini kian menyudutkan posisi Netanyahu di tengah situasi geopolitik kawasan yang mulai bergeser. Pasalnya, demonstrasi besar ini pecah bersamaan dengan dimulainya dialog langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss, menyusul penandatanganan memorandum Islamabad oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Israel