Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perjanjian Damai Nyaris Jadi Abu Usai Iran Klaim Hancurkan 8 Pangkalan Militer AS!

Redaksi Prokal • Senin, 29 Juni 2026 | 11:43 WIB
 Asap mengepul setelah serangan drone Iran menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait (1/4/2026). ANTARA/Anadolu Agency.
Asap mengepul setelah serangan drone Iran menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait (1/4/2026). ANTARA/Anadolu Agency.

ISTANBUL – Kesepakatan damai yang baru seumur jagung antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di ujung tanduk. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) besar-besaran yang menghancurkan delapan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu (26/8). Langkah ekstrem ini menjadi salah satu hantaman langsung paling signifikan dari Teheran terhadap aset Washington sejak konflik kedua negara pecah.

Menurut laporan televisi nasional Iran, IRIB, operasi militer skala besar tersebut dilancarkan melalui koordinasi ketat antara pasukan laut dan udara IRGC. Target utama dari hujan rudal ini mencakup instalasi vital AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem yang terletak di Kuwait, serta sejumlah fasilitas strategis yang terafiliasi dengan Armada Kelima AS di Bahrain. Pihak IRGC menegaskan bahwa serangan mematikan ini merupakan aksi balasan langsung atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat baru-baru ini terhadap fasilitas milik Iran di Sirik dan Pulau Qeshm. Eskalasi bersenjata ini meletus hanya berselang beberapa jam setelah tensi di perairan Teluk kembali memanas ke level yang mengkhawatirkan.

Aksi saling serang ini memicu keprihatinan global mengingat kedua negara sebenarnya baru saja mengikat janji damai lewat Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang dimediasi oleh Pakistan untuk mengakhiri perang sejak 28 Februari lalu. Dokumen perdamaian tersebut baru resmi berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump. Di dalam kesepakatan tersebut, kedua belah pihak awalnya berkomitmen untuk menghentikan total segala bentuk peperangan, membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, mencabut blokade laut AS terhadap Iran, serta melanjutkan perundingan mengenai program nuklir Teheran.

Namun, dengan adanya klaim serangan langsung dari IRGC ini, komitmen perdamaian yang tertuang dalam dokumen tersebut kini dipertanyakan besar-besaran. Publik internasional saat ini menanti respons resmi dari Washington, yang diprediksi bisa kembali memicu api perang terbuka di kawasan Timur Tengah jika tidak segera diredam. (*)

Editor : Indra Zakaria
#iran