Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Teheran Sebut Serangan Terbaru AS ke Iran Tewaskan 30 Warga Sipil, Trump Ancam Perluas Operasi Militer

Redaksi Prokal • Kamis, 16 Juli 2026 | 06:34 WIB
Serangan AS ke Iran di sekitar PLTN Bushehr. (Al-Jazeera)
Serangan AS ke Iran di sekitar PLTN Bushehr. (Al-Jazeera)

 
TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kian membara. Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 30 warga sipil tewas akibat serangan udara terbaru yang dilancarkan militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran pada Rabu (15/7/2026).

Menanggapi situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan ancaman keras untuk meningkatkan dan memperluas operasi militer jika Teheran tetap menolak kembali ke meja perundingan. Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa melalui pernyataan resmi di akun media sosial X miliknya. Ia menegaskan bahwa para korban murni merupakan warga sipil yang terdampak langsung oleh serangan.

"Lebih dari 30 warga sipil telah tewas dalam serangan terbaru di wilayah selatan Iran," ungkap Mohajerani. Meski demikian, pihak Teheran belum merilis lokasi pasti maupun rincian identitas para korban yang gugur. Hingga saat ini, klaim jumlah korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga.

Di sisi lain, Gubernur Provinsi Bushehr melaporkan bahwa jet tempur AS juga membidik tiga titik strategis di Kota Bushehr pada Rabu pagi waktu setempat—wilayah yang dikenal sebagai area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Iran. Kendati demikian, Kantor Berita Fars menyatakan tidak ada laporan korban luka maupun jiwa khusus untuk serangan di wilayah Bushehr tersebut.

Gertakan Donald Trump dan Ancaman Infrastruktur

Pernyataan resmi dari Teheran ini muncul hanya berselang sehari setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa opsi militer terhadap Iran tidak akan dikendurkan. Sebaliknya, Trump memperingatkan bahwa Washington akan memperluas target sasaran.

Apabila Teheran tetap bersikeras menolak negosiasi formal, Trump mengancam militer AS akan mulai menargetkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan utama, mulai pekan depan.

Eskalasi konflik kedua negara ini terus meruncing menyusul aksi saling serang di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran super-strategis yang mengontrol pasokan komoditas energi global.

Merespons agresi tersebut, Pemerintah Iran dilaporkan telah melayangkan surat resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam surat tersebut, Teheran menuduh Washington telah melanggar Islamabad Memorandum of Understanding.

Dokumen tersebut merupakan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan. Perjanjian itu awalnya dirancang sebagai landasan untuk menghentikan konflik bersenjata dan membuka jalan diplomasi menuju perdamaian permanen antara kedua belah pihak. Namun dengan serangan terbaru ini, masa depan perjanjian damai tersebut kini berada di ujung tanduk. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
iran