KATHMANDU — Dinding batu dan lumpur raksasa runtuh ke sungai di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, memicu banjir bandang dahsyat yang menewaskan sedikitnya 157 orang dan menyebabkan ratusan wisatawan hilang.
Bencana yang dipicu oleh longsoran es dan batuan gletser ini merusak rumah, jalur transportasi, hingga proyek pembangkit listrik di kedua wilayah perbatasan. "Arus lumpur yang sangat besar datang lurus ke arah kami. Semakin dekat, tingginya terus naik. Begitu melihat lumpur masuk ke dalam rumah, saya berusaha memegang tangan istri saya untuk membawanya ke teras. Namun, dia terlepas dan hanyut terbawa lumpur," ungkap Keshav Prasad Baral (68), seorang korban selamat yang kehilangan istrinya dalam tragedi ini.
"Sekitar empat atau lima jam kemudian, helikopter datang menyelamatkan saya. Istri saya masih tertimbun di bawah lumpur. Dia sudah pergi," tambahnya. Dampak kehancuran merata di sepanjang aliran sungai, menghancurkan permukiman warga setempat tanpa sisa.
"Di mana pun kami memandang, yang ada hanya kehancuran. Permukiman di samping sungai telah sepenuhnya terhanyut. Lima kerabat saya sendiri sampai saat ini masih hilang," ujar Tula Bahadur BK, seorang petugas kesehatan di wilayah Rasuwa, Nepal.
Pihak berwenang Nepal mencatat lebih dari 400 wisatawan hilang, termasuk 340 warga negara asing dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, dan India. Sementara itu, otoritas di Gyirong, Tibet, mengonfirmasi tiga korban jiwa dan 265 orang masih dalam pencarian akibat terputusnya akses komunikasi serta infrastruktur jalan. Tim penyelamat internasional dan PBB kini tengah dikerahkan untuk membantu evakuasi di area terdampak. (*)
Sumber : prokal.co