PROKAL.CO- Harga minyak mentah dunia menguat signifikan pada pembukaan perdagangan Senin (31/8). Lonjakan harga pemicunya adalah kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap posisi Iran di Selat Hormuz, yang langsung dibalas oleh serangan balik dari pihak Teheran.Mengutip data pasar Investing pada pukul 08:34 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 2,17 persen atau naik 1,97 dolar AS menjadi 90,21 dolar AS per barel, naik jika dibandingkan perdagangan Jumat (21/8) lalu sebesar 88,23 dolar AS per barel.
Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat naik 2,19 persen atau bertambah 1,82 dolar AS ke tingkat 85,31 dolar AS per barel, meningkat dari posisi perdagangan Rabu pagi sebelumnya di level 83,23 dolar AS per barel.Serangan Perdana Sejak Akhir JuliMenurut laporan Reuters, pasukan militer AS menggempur dua peluncur rudal milik Iran di Pulau Larak yang berlokasi strategis di Selat Hormuz pada Minggu (30/8). Aksi ini mencatatkan serangan militer pertama Washington terhadap target Iran sejak akhir Juli.
Merespons ketegangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan terhadap dua pangkalan udara AS yang berlokasi di Yordania pada Senin pagi."Sepertinya kita kembali memasuki fase eskalasi. Berapa lama kondisi ini akan berlangsung sulit ditentukan. Bisa berhari-hari, bisa berminggu-minggu," ungkap Analyst Pasar IG, Tony Sycamore.
Hingga saat ini, proses negosiasi diplomatik untuk mengakhiri perselisihan masih menemui jalan buntu, sementara para mediator internasional berupaya agar Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara aman. Sebelum konflik meletus pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia mengalir secara rutin melewati jalur pelayaran vital tersebut. Meski analis ANZ dalam catatannya menyebutkan adanya sedikit peningkatan volume arus yang berusaha melintas, data pelayaran terkini menunjukkan jumlah kapal komoditas yang menyeberangi Selat Hormuz susut menjadi hanya lima kapal per hari.
Angka ini mencerminkan tingginya tingkat kehati-hatian pihak pengelola kapal akibat meningkatnya potensi bahaya keamanan. Kekhawatiran sektor korporasi diperkuat laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang mengonfirmasi sebuah kapal tanker hantam proyektil saat hendak berlayar memasuki Selat Hormuz pada Sabtu. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa minyak hasil kesepakatan baru dengan Venezuela akan dialokasikan untuk mengisi ulang Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) AS. Langkah ini diambil guna memulihkan volume cadangan minyak nasional AS yang posisinya telah menyusut ke tingkat terendah dalam 44 tahun terakhir. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co