KABUL — Saat warga Amerika Serikat memperingati 25 tahun tragedi serangan teroris 11 September 2001, fakta memprihatinkan terlihat di ibu kota Afganistan, Kabul. Lima tahun setelah kepergian pasukan Amerika Serikat dan sekutunya yang mengakhiri perang selama dua dekade, Taliban kini berkuasa penuh dengan memanfaatkan persenjataan canggih bernilai miliaran dolar milik tentara AS.
Peralatan militer peninggalan perang terpanjang Amerika tersebut kini menjadi pemandangan sehari-hari di jalanan Kabul. Milisi Taliban berpatroli mengendarai kendaraan lapis baja Humvee, mengenakan perlengkapan taktis tentara AS, serta menyandang senjata api buatan Amerika. Bahkan, dalam parade militer merayakan lima tahun kekuasaannya, Taliban dengan bangga memamerkan seluruh persenjataan tersebut.
Data Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) menunjukkan bahwa peralatan militer bernilai sekitar 7 miliar dolar AS jatuh ke tangan Taliban ketika Tentara Nasional Afganistan runtuh pada tahun 2021.
Presiden Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap mantan pemerintahan Joe Biden atas proses penarikan pasukan yang dinilai berantakan hingga meninggalkan persenjataan berharga. Trump secara tegas menuntut agar Taliban mengembalikan seluruh peralatan militer milik AS tersebut.
Namun, tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Taliban. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Taliban, Abdul Qahar Balkhi, menegaskan bahwa seluruh persenjataan tersebut kini telah menjadi hak milik negara Afganistan.
“Peralatan ini sekarang milik negara Afganistan, dan kami tidak sedang dalam bisnis bertransaksi atau bernegosiasi atas aset milik negara. AS telah membunuh banyak orang dan menghancurkan sebagian besar negara ini. Bukankah seharusnya mereka membayar ganti rugi itu terlebih dahulu?” ujar Balkhi.
Di sisi lain, analisis mengenai penarikan pasukan AS terus memicu perdebatan politik di Washington. Laporan evaluasi yang dirilis Departemen Luar Negeri AS mengkritik baik pemerintahan Trump atas Kesepakatan Doha yang dibuatnya bersama Taliban, maupun pemerintahan Biden yang dinilai kurang matang dalam perencanaan proses evakuasi.
Dampak dari jatuhnya persenjataan AS ke tangan Taliban dinilai sangat signifikan. Para kritikus menilai pasokan senjata bernilai miliaran dolar tersebut telah mengubah Taliban dari sekadar kelompok pemberontak menjadi kekuatan militer negara yang solid.
Kekuatan militer ini kini digunakan untuk memaksakan interpretasi hukum yang sangat ketat terhadap rakyat Afganistan. Sejak kembali berkuasa, Taliban membatasi hak-hak sipil secara drastis, khususnya terhadap perempuan dan anak perempuan yang kini hampir sepenuhnya dilarang untuk bekerja dan mengenakan bangku sekolah. Kondisi ini dinilai sejumlah analis jauh lebih mengekang dibandingkan era kekuasaan Taliban pada dekade 1990-an. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co