ALASKA — Sebuah tragedi memilukan sekaligus mengagumkan terjadi di perairan dingin Laut Bering, Alaska. Parker, seorang remaja berusia 15 tahun, berhasil selamat secara ajaib setelah terdampar berhari-hari di atas lambung kapal nelayan yang terbalik. Namun, musibah ini merenggut nyawa kakak kandung dan sepupunya.
Peristiwa naas ini bermula ketika kapal nelayan sepanjang 5,5 meter yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin di dekat Pulau St. Lawrence. Tali pancing tersangkut di baling-baling motor dan tak bisa dilepaskan. Ditengah kondisi fisik crew yang kelelahan, cuaca buruk mendadak menerjang hingga membuat kapal terbalik pada Jumat malam.
Menurut penuturan abang korban, Darren Toolie-Noongwook, sang kakak—Sidney—tewas terlebih dahulu karena terlilit tali saat berusaha mengambilkan jaket pelampung untuk Parker. Parker dan sepupunya sempat bertahan bersama di atas kapal yang terbalik sepanjang malam. Namun, rasa panik membuat sang sepupu nekat melompat ke laut untuk berenang. Naas, ia tenggelam hanya beberapa meter dari kapal.
Tinggal seorang diri di tengah lautan luas, Parker terus berlutut dan berdoa di atas lambung kapal, yakin bahwa ia akan diselamatkan dan percaya mendiang kakaknya terus menjaganya.
Penjaga Pantai AS (US Coast Guard) yang menerima laporan kapal hilang sempat terkendala cuaca buruk dan jarak pandang yang minim. Barulah pada Senin sore, kapal riset Northwest Explorer yang berada di sekitar lokasi berhasil menemukan Parker sekitar 4 mil dari Pulau St. Lawrence.
Kapten kapal Northwest Explorer, Adam White, mengungkapkan kekagumannya atas ketangguhan remaja tersebut. Meski mengalami hipotermia sedang, Parker masih memiliki kekuatan untuk menangkap tali penyelamat yang dilemparkan tim evakuasi.
"Kami beruntung karena anak ini sangat tangguh dan kuat. Ia sanggup memegang erat tali saat kami menariknya naik. Saya benar-benar tidak percaya betapa kuatnya dia," ujar White. Meski bersyukur Parker selamat dan kini mendapatkan perawatan medis, keluarga besar Toolie-Noongwook menyadari ada proses trauma panjang yang harus disembuhkan.
"Kami sangat bahagia dia selamat, tetapi trauma yang menyertainya sangat menyakitkan. Kami semua ikut merasakan kesakitannya," ungkap Darren. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co