Asap Makin Pekat, Malaysia Pilih Kebijakan Sekolah Fleksibel Dibanding Libur Serentak

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:46 WIB
Ilustrasi sekolah di Malaysia ditutup akibat dampak Karhutla di Indonesia. (TheEdgeMalaysia)
Ilustrasi sekolah di Malaysia ditutup akibat dampak Karhutla di Indonesia. (TheEdgeMalaysia)

PROKAL.CO- Pemerintah Malaysia memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan penutupan sekolah berbasis kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah di tengah krisis kabut asap yang kian memburuk. Kebijakan ini berdampak signifikan di Negara Bagian Johor, di mana seluruh sekolah dan institusi pendidikan terpaksa diliburkan selama lima hari penuh, terhitung sejak 12 hingga 16 Oktober 2026.

Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, menegaskan bahwa keputusan penutupan sekolah tidak dapat ditetapkan secara seragam untuk beberapa hari sekaligus di seluruh negeri. Hal tersebut disebabkan oleh dinamika kualitas udara yang dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada jam dan lokasi geografisnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Fadhlina guna merespons desakan para orang tua murid yang menginginkan kepastian lebih awal. Sebagian orang tua mengusulkan agar pemerintah menetapkan libur sekolah beberapa hari berturut-turut untuk memudahkan mereka mengatur jadwal kerja, pengasuhan anak, serta kebutuhan rumah tangga tanpa harus menunggu pengumuman harian.

"Dalam mengambil keputusan, penting untuk memahami bahwa pembacaan Indeks Pencemaran Udara (API) dapat berubah bergantung pada waktu dan lokasi," ujar Fadhlina.

Meskipun harus menyesuaikan dengan kondisi faktual di lapangan, Fadhlina mengaku sangat memahami kecemasan para orang tua. Atas dasar itu, ia telah memerintahkan jajarannya agar pengumuman penutupan sekolah dikeluarkan sedini mungkin.

"Saya memahami kekhawatiran ini. Karena itu, saya telah meminta agar keputusan penutupan sekolah diumumkan sedini mungkin untuk memberi orang tua waktu mempersiapkan diri," tambahnya.

Sejauh ini, Johor menjadi kawasan yang paling parah terdampak paparan kabut asap. Seluruh lembaga pendidikan di wilayah tersebut dihentikan aktivitas tatap mukanya sejak Kamis (8/10/2026) dan berlanjut hingga pekan ini. Sebaliknya, wilayah lain seperti Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Putrajaya, serta sebagian Kuala Lumpur dan Selangor sudah mulai membuka kembali kelas tatap muka setelah indeks API pada Minggu (11/10/2026) membaik ke kategori sedang.

Berdasarkan regulasi Kementerian Pendidikan Malaysia, sekolah wajib ditutup apabila angka API di suatu daerah menembus batas 180, atau ketika indeks bertahan di atas angka 150 selama tiga hari berturut-turut. Penanganan krisis asap ini juga melibatkan kolaborasi antarlembaga, di mana Departemen Lingkungan memantau kualitas udara, Kementerian Kesehatan mengeluarkan panduan medis, serta Kementerian Pendidikan fokus pada keselamatan para siswa.

Di sisi lain, pemerintah Malaysia menghadapi dilema besar terkait potensi penurunan kualitas pendidikan jika sekolah diliburkan terlalu lama. Fadhlina mengingatkan bahwa dampak dari kehilangan waktu belajar (learning loss) saat pandemi Covid-19 lalu masih belum sepenuhnya pulih.

"Sampai hari ini, upaya untuk mengatasi ketertinggalan pembelajaran selama Covid-19 masih berlangsung. Waktu belajar yang hilang tidak mudah dipulihkan, terutama karena akses terhadap fasilitas pengajaran dan pembelajaran dari rumah tidak sama bagi semua siswa," tutur Fadhlina.

Guna meringankan beban operasional keluarga, Kementerian Pendidikan Malaysia juga menyiapakan penanganan khusus bagi siswa sekolah berasrama. Mereka direkomendasikan untuk tetap berada di lingkungan asrama selama kondisi di lokasi tersebut dinyatakan aman.

"Kementerian Pendidikan tidak ingin orang tua terbebani dengan harus berulang kali menjemput dan mengantar anak-anak mereka kembali ke sekolah," jelas Fadhlina.

Pemerintah Malaysia memastikan bahwa hasil pemantauan 68 stasiun pemantau kualitas udara di seluruh negeri akan terus menjadi acuan utama dalam menentukan apakah kegiatan belajar dapat kembali berjalan normal atau harus diliburkan kembali. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
malaysia