PROKAL.CO- Suasana damai di kawasan wisata bersejarah Alun-Alun Utama Kota Krakow, Polandia, mendadak berubah menjadi lautan kepanikan pada Sabtu (7/1). Seorang pria bersenjata api secara brutal memberondongkan tembakan ke arah kerumunan pengunjung, merenggut nyawa enam orang tak berdosa sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan dan diringkus oleh aparat kepolisian.
Penyelidikan awal yang dilakukan otoritas setempat langsung mengarah pada motif ideologis. Menteri Dalam Negeri Polandia, Marcin Kierwinski, mengungkapkan bahwa pelaku diduga kuat terpengaruh oleh paham ekstrem kanan.
"Semua indikasi mengarah pada fakta bahwa pelaku dipengaruhi oleh ideologi sayap kanan, sebuah hal yang juga akan menjadi subjek penyelidikan mendalam," ujar Marcin Kierwinski. Ia memastikan penanganan kasus ini melibatkan koordinasi ketat antara jajaran kepolisian dan Badan Keamanan Internal (ABW).
Dari total enam korban tewas di lokasi kejadian, kepolisian mengonfirmasi empat di antaranya adalah perempuan dan dua lainnya laki-laki, dengan salah satu korban teridentifikasi sebagai warga negara Inggris. Selain itu, insiden berdarah ini juga melukai sejumlah warga negara asing asal Austria, Jerman, Portugal, Rusia, dan Inggris, serta dua orang anggota kepolisian yang turut menjadi korban luka.
Tragedi ini ternyata menyisakan misteri yang lebih kelam. Saat aparat kepolisian melakukan penyisiran ke rumah pelaku di Ostrowiec Swietokrzyski, sekitar 200 kilometer di utara Krakow, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengonfirmasi penemuan tiga jenazah tambahan di dalam kediaman tersebut.
"Terdapat indikasi kuat bahwa ketiga korban, dua perempuan dan satu laki-laki, merupakan anggota keluarga dekat pelaku," tegas Donald Tusk.
Petugas terpaksa menerjunkan unit drone dan pasukan kontra-terorisme karena kediaman pelaku diduga kuat menyimpan amunisi serta senjata api dalam jumlah signifikan, yang sempat memicu evakuasi darurat terhadap warga di sekitar apartemen. Pelaku diketahui merupakan seorang pria berkewarganegaraan Polandia berusia 24 tahun. Juru bicara kepolisian setempat, Katarzyna Cislo, memaparkan bahwa pelaku melancarkan aksinya dengan perlengkapan taktis lengkap.
"Pelaku mengenakan pakaian mirip militer dan menggunakan senjata kelas militer. Banyak senjata dan amunisi tambahan juga ditemukan di dalam kendaraannya," jelas Cislo. Dalam aksinya, pelaku menggunakan senapan otomatis jenis AR-15. Ironisnya, senjata maut tersebut diketahui dimiliki oleh pelaku secara legal melalui prosedur kepemilikan izin resmi.
Teror bermula sekitar pukul 15.00 waktu setempat ketika pelaku yang mengendarai sebuah mobil mulai melepaskan tembakan secara acak ke arah kerumunan wisatawan di alun-alun Krakow. Suasana mencekam dirasakan langsung oleh para saksi mata di lokasi kejadian.
"Saya melihat tembakan dilepaskan dari jendela sisi pengemudi, dan asap keluar dari sana. Saya langsung berlari ke kantor polisi di alun-alun pasar utama; saat saya menerobos masuk, ruangan sudah penuh dengan orang-orang yang bersembunyi di lantai," tutur Konrad, salah seorang saksi mata.
Saksi lainnya, Julek (67), mengaku lolos dari maut secara dramatis. "Jika kami tiba dua menit lebih awal, kami mungkin sudah tertembak," ujarnya.
Aparat keamanan mendapat apresiasi tinggi atas respons kilat mereka di lapangan. Hanya dalam waktu tiga menit setelah laporan pertama diterima, petugas berhasil melumpuhkan dan membekuk pelaku guna mencegah jatuhnya korban jiwa yang lebih besar.
Sebagai bentuk penghormatan bagi para korban, pemerintah Polandia resmi menetapkan Hari Duka Nasional selama dua hari pada 8 dan 9 November. Gelombang belasungkawa pun mengalir deras dari para pemimpin internasional, termasuk dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy serta Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, yang menyebut tragedi ini sebagai duka mendalam yang meruntuhkan rasa aman di kawasan Eropa. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co