PONTIANAK – Masyarakat di Kalimantan Barat (Kalbar) diminta untuk memperketat kesiapsiagaan dalam beberapa waktu ke depan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang. Kondisi atmosfer ini dikhawatirkan memicu rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang di berbagai wilayah rawan.
Peringatan tegas ini menyusul rilis data prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menempatkan Kalimantan Barat sebagai salah satu dari 26 provinsi di Indonesia yang masuk dalam zona merah potensi cuaca ekstrem. Menanggapi situasi tersebut, BNPB mendesak pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk segera mengambil langkah mitigasi konkret secara cepat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menekankan pentingnya pemeriksaan infrastruktur lingkungan di daerah. Otoritas setempat diwajibkan memastikan seluruh saluran drainase dan tata air berfungsi optimal agar tidak terjadi sumbatan masif saat debit air meningkat. Selain itu, masyarakat diperingatkan secara tegas untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas di sekitar daerah aliran sungai ketika hujan deras mulai mengguyur.
Belajar dari Tragedi Banjir Dua Meter di Sekadau
Ancaman hidrometeorologi di Bumi Khatulistiwa ini bukan sekadar isapan jempol belaka. BNPB mengingatkan bahwa belum lama ini, banjir besar sempat melanda Kecamatan Nanga Mahap di Kabupaten Sekadau. Akibat curah hujan yang melampaui kapasitas tampung, Sungai Sekadau meluap hebat hingga merendam sedikitnya 1.560 rumah warga dengan ketinggian air yang sangat ekstrem, yakni mencapai dua meter, sebelum akhirnya perlahan surut.
Peristiwa di Sekadau menjadi alarm keras bahwa kawasan di sepanjang aliran sungai serta pemukiman dengan sistem drainase yang buruk memiliki risiko terdampak paling besar. Selain banjir luapan, ancaman lain yang mengintai kawasan perkotaan dan perbukitan di Kalbar adalah genangan air yang meluas, berkurangnya struktur kekuatan tanah yang memicu longsor, serta potensi angin kencang yang bisa merobohkan baliho maupun pohon pelindung jalan.
Oleh karena itu, kunci utama dalam menghadapi siklus cuaca ekstrem ini adalah kecepatan informasi dan kesiapsiagaan mandiri. BNPB berharap masyarakat tidak abai dan terus memantau pembaruan cuaca berkala yang dikeluarkan resmi oleh BMKG demi meminimalisir risiko kerugian materiil maupun korban jiwa.
Editor : Indra Zakaria