Karhutla Gambut Meluas, Kualitas Udara di Kubu Raya Memburuk Hingga Kategori Tidak Sehat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:45 WIB
Bupati Kubu Raya Sujiwo bersama personel TNI dan Polri memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Bupati Kubu Raya Sujiwo bersama personel TNI dan Polri memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

KUBU RAYA – Kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya memburuk hingga masuk dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan data pemantauan Air Quality Index (AQI) US, tingkat polusi udara menyentuh angka 169 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 80,9 mikrogram per meter kubik (μg/m3 ), angka yang berisiko memicu gangguan kesehatan serius bagi kelompok rentan.

Memburuknya kualitas udara ini terjadi bersamaan dengan perjuangan tim gabungan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Desa Rasau Jaya Umum, perbatasan Desa Kuala Dua.

Proses pemadaman di lapangan menghadapi tantangan berat akibat karakteristik tanah gambut yang membuat api menjalar hingga ke bawah permukaan tanah. Kepala Regu Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya, Florensius Loren, membeberkan alotnya perjuangan tim di lapangan. "Proses pemadaman cukup sulit karena lahan didominasi gambut. Kami terus berupaya agar api tidak meluas ke wilayah lain," kata Florensius.

Selain kondisi tanah yang sulit ditangani, tim pemadam juga harus berhadapan dengan minimnya pasokan air dan keterbatasan peralatan di lokasi kebakaran. "Kendala di lapangan saat ini adalah sumber air yang cukup jauh sehingga menguras tenaga personel. Selain itu, jumlah selang hantar yang kami miliki masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau titik api yang berada di bagian ujung," ujar Florensius menjelaskan situasi di lapangan.

Mengingat bahaya polusi PM2.5 yang dapat masuk hingga ke saluran alveoli paru-paru dan aliran darah, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan serta mengenakan masker standar penyaring partikel halus seperti N95 atau KN95.

Guna mencegah memburuknya situasi karhutla di musim kemarau, pihak Dalkarhutla memberikan peringatan keras kepada warga sekitar agar tidak membuka lahan dengan metode pembakaran. "Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah ditangani," tegas Florensius. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kubu raya