Krisis Air Hambat Pemadaman Karhutla di Kubu Raya: BMKG Deteksi 1.083 Hotspot, Udara Berstatus Tidak Sehat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 07:02 WIB
Petugas BPBD Kalbar berjibaku memadamkan api Karhutla di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Senin (27/7/2026) (Antara)
Petugas BPBD Kalbar berjibaku memadamkan api Karhutla di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Senin (27/7/2026) (Antara)

PROKAL.CO- Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, terus memakan energi petugas di lapangan. Tim gabungan kini harus berhadapan dengan minimnya pasokan air setelah sebagian besar parit dan sumber air alami di lokasi pemadaman mulai mengering akibat musim kemarau.

Kepala Regu Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya, Florensius Loren, membeberkan bahwa menyusutnya sumber air menjadi rintangan terbesar saat tim diterjunkan kembali ke Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya.

"Kendala utama saat ini adalah sumber air yang sulit didapat, karena parit mulai kering. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih berat," ujar Florensius pada Senin (27/7/2026).

Situasi karhutla di wilayah Kalimantan Barat tergolong sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data BMKG per 27 Juli 2026, terdeteksi sebanyak 1.083 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kalbar, di mana 147 hotspot berada di Kabupaten Kubu Raya dengan dua titik berstatus high confidence.

Dampak pembakaran lahan ini mulai merusak kualitas udara secara signifikan. Pemantauan BMKG mencatat tingkat kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya telah masuk kategori "Tidak Sehat" dengan konsentrasi PM2.5 menyentuh angka 149,1 µg/m³, yang berisiko tinggi memicu gangguan pernapasan.

Guna mencegah memburuknya situasi, Brigade Dalkarhutla KPH Kubu Raya kini mengintensifkan patroli di titik-titik rawan serta mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi secara mandiri.

"Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan masker saat keluar rumah, khususnya di daerah yang terdampak asap. Selain itu masyarakat diharapkan tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu meluasnya kebakaran," pungkas Florensius. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
kubu raya