Suhu Ekstrem Tembus 35,3°C, BMKG Peringatkan Lahan di Kalbar Sangat Mudah Terbakar

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:45 WIB
Peta prakiraan curah hujan di Kalimantan Barat pada Agustus 2026. Seluruh wilayah Kalbar diprediksi mengalami curah hujan rendah pada 10-16 Agustus 2026. (BMKG)
Peta prakiraan curah hujan di Kalimantan Barat pada Agustus 2026. Seluruh wilayah Kalbar diprediksi mengalami curah hujan rendah pada 10-16 Agustus 2026. (BMKG)

PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkankan peringatan serius terkait potensi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Seluruh wilayah Kalbar pada periode 10 hingga 16 Agustus 2026 diprediksi masih mengalami curah hujan dengan intensitas sangat rendah, yang memicu lonjakan titik panas (hotspot) serta ancaman kabut asap pekat.

Berdasarkan prakiraan Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat untuk Dasarian II (11–20 Agustus 2026), curah hujan secara umum masuk dalam kategori rendah, yakni hanya berkisar antara 0–20 mm/dasarian dengan sifat hujan di bawah normal. Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 10 Agustus 2026 mencatat HTH terpanjang terjadi di Kabupaten Ketapang—khususnya di Kecamatan Muara Pawan, Sungai Besar, dan Nanga Tayap—yang mengalami kekeringan ekstrem hingga 42 hari berturut-turut.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Reny, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap drastisnya penurunan potensi hujan dan lonjakan suhu udara yang membuat lahan kian rentan terbakar. "Berkurangnya potensi hujan dan meningkatnya suhu udara yang terjadi dapat meningkatkan potensi kemudahan terjadi karhutla di wilayah Kalbar selama sepekan ke depan. Wilayah Kalbar berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar," jelas Reny pada Senin (10/8/2026).

Reny menambahkan bahwa kondisi cuaca secara umum pada Selasa (11/8/2026) diprakirakan dominan cerah berawan, yang memicu minimnya pembentukan awan hujan.

"Sebagian besar wilayah Kalimantan Barat diprakirakan secara umum cerah berawan," ungkapnya. Kondisi cuaca kering ini diperparah dengan kualitas udara harian yang berada pada rentang sedang hingga sangat tidak sehat. Pengamatan BMKG di sembilan titik lokasi Kalbar mencatat adanya lonjakan suhu udara maksimum ekstrem yang mencapai 35,3°C di Sambas, sementara jarak pandang di sejumlah wilayah seperti Kota Pontianak, Ketapang, dan Kubu Raya sempat merosot drastis hingga di bawah 1.000 meter akibat terkepung kabut asap.

Dengan nihilnya curah hujan di berbagai titik pengamatan, BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat bekerja sama memperketat pengawasan lahan serta menghindari segala aktivitas pembakaran guna mencegah krisis karhutla yang lebih meluas. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
kalbar