Terusir karena Api Karhutla, Orangutan Wak Dievakuasi dari Kebun Warga Ketapang

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Tim gabungan BKSDA Kalbar, YIARI, dan PT Mopakha mengevakuasi orangutan jantan bernama Wak dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Ketapang, akibat ancaman karhutla. (YIARI)
Tim gabungan BKSDA Kalbar, YIARI, dan PT Mopakha mengevakuasi orangutan jantan bernama Wak dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Ketapang, akibat ancaman karhutla. (YIARI)

KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta masifnya pembukaan lahan di Kabupaten Ketapang tak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga menghancurkan ruang hidup satwa yang dilindungi. Seekor orangutan jantan bernama "Wak" terpaksa keluar dari habitat aslinya yang terbakar dan merambah masuk ke area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara.

Kehadiran Wak pertama kali diketahui warga di perkebunan buah setempat pada Juli 2026. Satwa primata tersebut diduga kuat nekat mendekati permukiman untuk bertahan hidup, mencari makanan, serta berlindung dari kepungan asap dan kobaran api. Warga lokal, Morsali, mengarahkan bahwa bentrok ruang antara manusia dan satwa ini terulang kembali akibat kerusakan bentang alam di sekitar area tempat tinggal mereka.

"Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya ini terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia ini cari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," tutur Morsali.

Catatan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menunjukkan bahwa kawasan Kuala Tolak memang menjadi langganan lokasi evakuasi orangutan saat karhutla besar melanda pada 2015 dan 2019 lalu. Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengungkapkan bahwa karhutla telah menciptakan siklus konflik yang merugikan semua pihak. Saat hutan terfragmentasi dan hangus, masyarakat juga ikut menjadi korban lantaran tanaman budidaya mereka rusak disinggahi satwa.

"Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," kata Silverius.

Ia menambahkan bahwa bencana ekologis di Ketapang kini sudah masuk dalam fase krisis darurat keselamatan. "Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita," tegas Silverius.

Merespons potensi ancaman keselamatan terhadap Wak maupun warga, tim gabungan yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar SKW I Ketapang, YIARI, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), serta warga lokal langsung menggelar aksi evakuasi darurat. Usai berhasil diselamatkan, Wak kemudian dipindahkan dan dilepasliarkan di kawasan utara konsesi PT Mopakha yang dinilai masih memiliki tutupan tajuk dan pasokan pakan yang cukup.

General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, menegaskan komitmennya untuk memantau perkembangan adaptasi Wak di wilayah konsesi perusahaan yang masih berada dalam satu bentang hutan habitat aslinya.

"Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa turut merespons cepat informasi mengenai satu individu orangutan jantan yang terjebak di area perkebunan masyarakat di Tanjung Jorong, Desa Kuala Tolak," ungkap Wendi. 

Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang berhasil menyelamatkan orangutan tersebut dari ancaman konflik dan Karhutla. "Kita ketahui bersama bahwa habitat satwa liar, khususnya orangutan, semakin terdesak akibat fragmentasi habitat ditambah lagi dengan adanya kebakaran hutan dan lahan. Penanganan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat," puji Murlan.

Murlan mengingatkan bahwa langkah translokasi merupakan tindakan mitigasi sementara. Perlindungan habitat jangka panjang tetap membutuhkan komitmen bersama untuk menghentikan praktik pembakaran lahan agar satwa liar dan manusia dapat hidup berdampingan secara aman. (ram/jpg)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalbar orangutan