Ancaman Kemarau Panjang di Kalbar: Luas Lahan Terbakar Tembus 8 Ribu Hektare

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:11 WIB
Kabut asap.
Kabut asap.

PONTIANAK – Bayang-bayang kekeringan parah kini mengepung wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Stasiun Klimatologi BMKG Kalimantan Barat mengeluarkan peringatan serius mengenai fenomena El Nino yang diprediksi bakal menembus level "Sangat Kuat" pada periode Agustus hingga Oktober 2026. Kondisi cuaca ekstrem ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif di berbagai daerah.

Ancaman ini kian diperparah dengan rilis data Kementerian Kehutanan yang mencatat luas lahan terbakar di Kalbar hingga Juni 2026 saja telah menembus angka 8.095,95 hektare. Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Bernadus Daniel, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino kali ini berdampak sangat signifikan terhadap durasi, intensitas, serta frekuensi curah hujan di Kalbar.

"El Nino memengaruhi durasi, intensitas, dan frekuensi terjadinya hujan, namun dampaknya pada durasi kejadian ekstrem seperti lamanya rentetan hari kering dan berkurangnya curah hujan kumulatif terbukti lebih signifikan," papar Bernadus Daniel dalam keterangan resminya.

Berdasarkan analisis data historis, fenomena El Nino konsisten memicu kekeringan hebat di hampir seluruh pelosok Kalbar dari Juni hingga November, di mana intensitas hujan merosot drastis hingga di bawah 40 persen.

Kondisi tahun ini diperkirakan bisa menyerupai kekeringan dahsyat yang pernah melanda Kalbar pada 2019 lalu. Hal itu dikarenakan adanya potensi kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang memangkas suplai massa udara secara drastis, sehingga dampaknya jauh lebih merusak dibanding El Nino biasa.

Sepanjang Juli 2026, curah hujan di Kalbar terpantau sangat minim pada kisaran 0 hingga 200 mm per bulan, masuk dalam kategori rendah hingga menengah. Wilayah seperti Bengkayang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, Landak, Melawi, Mempawah, Sambas, Sanggau, Sekadau, Singkawang, hingga Sintang menjadi daerah yang paling terdampak penurunan curah hujan.

Bahkan, status Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori "Sangat Panjang"—yakni lebih dari 30 hari berturut-turut tanpa diguyur hujan—berpotensi mengancam kawasan Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, dan Melawi. Kekeringan ini mulai menunjukkan dampak buruknya terhadap kesehatan lingkungan. Konsentrasi partikel debu halus PM2,5 dalam beberapa hari terakhir dilaporkan telah menembus kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya akibat maraknya titik api.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau melanda sebagian besar Kalbar sepanjang Agustus ini, dan akan berlanjut hingga September di wilayah Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, serta Melawi. Sementara itu, untuk sebagian wilayah Kabupaten Ketapang, kondisi curah hujan di bawah normal diperkirakan terus bertahan hingga Oktober 2026. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
kalbar