PONTIANAK — Ancaman kabut asap lintas batas (transboundary haze) kembali menghantui wilayah perbatasan. Kualitas udara di Sarawak, Malaysia, dilaporkan memburuk drastis akibat kepungan jerebu yang diduga bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Dua kawasan di perbatasan, yakni Tebedu dan Serian, bahkan sudah masuk dalam kategori "Sangat Tidak Sehat".
Berdasarkan data Lembaga Sumber Daya Alam dan Lingkungan (NREB) Sarawak, Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Tebedu menembus angka 214, sementara Serian menyentuh 201. Tingkat pencemaran pada rentang 201–300 tersebut memicu dampak fatal pada aktivitas masyarakat, hingga memaksa ratusan sekolah meliburkan siswanya.
Kondisi udara yang membahayakan kesehatan paru-paru ini berdampak langsung pada operasional 6 sekolah di Tebedu dan 107 sekolah di Serian. Pemerintah setempat terpaksa menghentikan aktivitas belajar tatap muka demi mengamankan ribuan murid dari ancaman paparan racun asap. Pengerusi Jawatankuasa Pengurusan Bencana Negeri Sarawak (JPBNS), Datuk Amar Douglas Uggah Embas, menegaskan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi prioritas tertinggi di tengah kondisi kritis ini.
"Proses Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR) diteruskan sepanjang tempoh penutupan bagi memastikan kesinambungan pembelajaran murid tidak terjejas," tegas Datuk Amar Douglas Uggah Embas.
Kondisi udara tidak sehat ini ternyata membayangi hampir seluruh kawasan Sarawak. Sejumlah kota besar seperti Samarahan (178), Kuching (177), Sri Aman (157), Bintulu (153), hingga Miri (151) turut mencatatkan angka IPU yang memprihatinkan.
Mengingat risiko penyakit pernapasan dan serangan jantung yang melonjak drastis akibat jerebu tebal, otoritas kesehatan Sarawak meminta kelompok masyarakat rentan—seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil—untuk tidak melakukan aktivitas luar ruang. NREB Sarawak mengonfirmasi akan terus mengawal perkembangan kualitas udara secara real-time sembari mengimbau seluruh warga agar selalu mengenakan masker standar medis apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co