'Ekspor' Asap Kalbar Lumpuhkan Sarawak, Pemerintah Malaysia Siapkan Langkah Darurat!

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:30 WIB
ILUSTRASI - Tim melakukan pemadaman karhutla di Kabupaten Sambas. (IST)
ILUSTRASI - Tim melakukan pemadaman karhutla di Kabupaten Sambas. (IST)

PONTIANAK — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Barat mendadak jadi sorotan hangat publik internasional. Embusan angin kencang dari arah timur dan tenggara membawa gulungan asap tebal menyeberangi perbatasan hingga melumpuhkan aktivitas warga di Sarawak, Malaysia, dan memicu lonjakan Indeks Pencemaran Udara hingga level membahayakan.

Timbalan Menteri Perancangan Bandar, Pentadbiran Tanah dan Alam Sekitar Sarawak, Datuk Len Talif Salleh, secara terbuka mengonfirmasi bahwa jerebu parah yang kini menyelimuti kawasan perbatasan dipicu oleh kepulan asap dari wilayah Kalimantan Barat.

"Kita memantau keadaan setiap jam dan pada masa sama memberi nasihat kepada semua warga supaya berjaga-jaga serta mengurangkan aktiviti di luar," ujar Datuk Len Talif Salleh saat memaparkan kondisi terkini di wilayahnya.

Ia membeberkan bahwa kabut asap ini telah menekan kualitas udara di sejumlah titik vital, seperti Kuching, Samarahan, Sibu, dan Sarikei ke tingkat tidak sehat. Bahkan, angka pencemaran di Tebedu dan Serian telah melampaui batas kritis 200 IPU, yang berujung pada penutupan mendadak 113 sekolah demi menyelamatkan para siswa dari ancaman penyakit pernapasan.

Meskipun kualitas udara di negaranya makin mengkhawatirkan, Pemerintah Sarawak memilih untuk tidak terburu-buru mengambil tindakan rekayasa cuaca dan masih bergantung pada prediksi hujan alami dalam beberapa hari mendatang.

"Setakat ini belum lagi ada operasi pembenihan awan, tapi kita melihat keadaan bagaimana ia akan berubah dalam masa seminggu ini," tambah Len Talif sembari berharap potensi hujan di Kalimantan juga bisa membantu memadamkan api.

Di sisi lain, lonjakan titik panas di Kalbar yang menyentuh angka 2.812 titik membuat otoritas penanggulangan bencana Indonesia bertindak cepat. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan langsung memperketat pergerakan di zona merah perbatasan seperti Sambas dan Bengkayang guna meminimalkan risiko 'ekspor' asap ke negara tetangga.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, menegaskan pentingnya memperkuat tim patroli terpadu yang melibatkan TNI, Polri, serta masyarakat setempat demi menekan laju kebakaran di garda terdepan perbatasan negara.

"Kita harus memperkuat pencegahan di wilayah perbatasan negara. Meskipun arah angin saat ini bergerak dari tenggara ke barat dan berada di luar kendali kita, upaya pencegahan tetap harus diperkuat," tegas Yudho Shekti Mustiko. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
sarawak