Rekor,  63 Hari Tanpa Hujan! BMKG Kalbar Peringatkan Puncak Kemarau dan Potensi Kekeringan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi kemarau
Ilustrasi kemarau

PONTIANAK — Hari tanpa hujan berturut-turut di Kalimantan Barat mencatatkan rekor ekstrem. Beberapa wilayah di Kabupaten Ketapang bahkan mencatat masa kekeringan hingga 63 hari tanpa dipayungi hujan, memicu ancaman serius berupa kekeringan meteorologis serta lonjakan titik panas (hotspot).

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Fanni Aditya, mengungkapkan bahwa curah hujan di seluruh wilayah Kalbar pada Dasarian I atau periode 1–10 September 2026 ini masih akan tertahan pada kategori rendah.

"Wilayah Kalimantan Barat secara umum masih berpotensi mengalami curah hujan kategori rendah, sehingga perlu diwaspadai potensi kekeringan dan munculnya titik panas," ujar Fanni.

Ia memaparkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan hingga akhir Agustus, curah hujan secara umum berada di bawah batas normal dengan intensitas berkisar antara 0–50 milimeter per dasarian. "Curah hujan tertinggi tercatat di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, itu pun masih dalam kategori menengah," katanya.

Sebagian besar daerah di Kalbar telah mengalami hari tanpa hujan dalam rentang 11 hingga 20 hari. Namun, situasi paling mengkhawatirkan berada di Kabupaten Ketapang, di mana kategori ekstrem panjang melanda Kecamatan Nanga Tayap, Delta Pawan, Sandai, Matan Hilir Selatan, hingga Muara Pawan.

Kondisi gersang ini tak lepas dari hembusan dinamika atmosfer El Niño yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2027. BMKG memetakan September sebagai masa puncak kemarau yang merembet ke sejumlah titik rawan.

" September ini, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, dan Melawi," jelas Fanni.

Mengingat tipisnya potensi guyuran hujan dalam sepuluh hari ke depan, Fanni kembali menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra terhadap potensi kekeringan dan bahaya kebakaran lahan di daerah-daerah zona merah tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kekeringan ekstrem