Dikepung Asap Pekat Karhutla, Bandara Supadio Lumpuh Hingga Pesawat Menteri Gagal Mendarat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 07:12 WIB

 

Gubernur Kalbar Ria Norsan melihat proses pemadaman api pada lahan yang terbakar. (Meidy/Pontianak Post)
Gubernur Kalbar Ria Norsan melihat proses pemadaman api pada lahan yang terbakar. (Meidy/Pontianak Post)

 

PONTIANAK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kian parah hingga melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kamis (3/9). Kabut asap pekat yang menyelimuti kawasan bandara membuat jarak pandang (visibility) anjlok drastis hingga menyentuh angka 100–200 meter, membahayakan keselamatan penerbangan.

Parahnya kondisi cuaca bahkan membuat pesawat yang membawa Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama rombongan gagal melakukan pendaratan.

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengonfirmasi pembatalan pendaratan rombongan menteri akibat minimnya jarak pandang di area landasan.

“Di tempat kita ini beliau batal datang karena kabut asap dan jarak pandang hanya bisa 100 meter saja. Sehingga pesawat tidak berani untuk landing,” ujar Ria Norsan, Kamis (3/9).

Kegagalan mendarat tersebut membuat agenda peninjauan lokasi karhutla oleh Menhut di kawasan Limbung, SMA Negeri 4, hingga Rasau Jaya terpaksa tertunda.

Dampak kabut asap ini juga merembet ke penerbangan komersial lainnya. Manager Operasi Bandara Supadio Pontianak, Muhammad Arifin, membeberkan bahwa sejumlah maskapai tidak dapat beroperasi secara normal. Salah satunya penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta–Pontianak yang terpaksa balik arah (return to base) ke Jakarta.

“Per hari ini sudah ada dua penerbangan yang terdampak dari asap ini, khususnya jarak pandang. Karena kondisi cuaca di-support dengan visibility yang rendah, jadi operasional penerbangan baik berangkat maupun datang itu belum bisa kita akomodir,” jelas Arifin.

Kondisi penundaan akibat kabut asap ini sejatinya telah terjadi sejak Rabu (2/9). Penumpukan penumpang tak terhindarkan di area terminal lantaran ketidakpastian jadwal keberangkatan.

Lumpuhnya konektivitas udara di Bandara Supadio menjadi sinyal makin kritisknya dampak ekologis karhutla di Kalbar, yang kini tak hanya mengancam kesehatan warga tetapi juga menahan mobilitas ekonomi dan agenda pemerintahan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
kalbar