PONTIANAK — Penyusutan debit air Sungai Kapuas mulai membawa dampak serius bagi sektor perkebunan di Kalimantan Barat (Kalbar). Jalur pendistribusian yang terputus membuat sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di wilayah timur Kalbar terpaksa menghentikan operasional, yang berujung pada sulitnya petani lokal menjual Tandan Buah Segar (TBS).
Kondisi surutnya sungai utama tersebut melumpuhkan pengangkutan Crude Palm Oil (CPO) menggunakan ponton. PKS di kawasan Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sanggau, hingga Sekadau terpaksa tutup atau membatasi pengolahan karena tangki penampungan CPO sudah penuh.
"Beberapa PKS tutup karena tidak bisa mengolah diakibatkan tangki penuh. PKS terpaksa menghentikan operasionalnya atau membatasi kuota pengolahan TBS sekitar 200 sampai 300 ton per hari," ungkap Ketua DPW Apkasindo Kalbar, Indra Rustandi.
Dampak penghentian operasional pabrik ini menghantam keras para petani sawit, terutama kelompok swadaya. Karena kapasitas penerimaan PKS yang sangat terbatas, antrean truk pengangkut TBS melular hingga memakan waktu tunggu dua hingga tiga malam sebelum bisa dibongkar.
Keterlambatan bongkar muat ini memicu penurunan kualitas buah sawit, membengkaknya biaya operasional, dan merosotnya pendapatan petani secara signifikan.
"Selain itu, petani yang biasanya panen dua kali dalam satu bulan, sekarang hanya sekali. Jadi imbasnya sangat banyak ke petani swadaya. Kita turut prihatin," jelas Indra.
Untuk menyiasati situasi ini, sebagian petani terpaksa mengangkut hasil panen mereka sangat jauh hingga ke PKS di wilayah Tayan, Kabupaten Sanggau, bahkan mendekati kawasan Kota Pontianak agar TBS tidak membusuk.
Menanggapi krisis distribusi ini, Apkasindo Kalbar tengah berkoordinasi intensif dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) serta Pemprov Kalbar untuk merumuskan solusi darurat.
Langkah cepat yang ditawarkan adalah mengalihkan sementara pengangkutan CPO dari sungai ke jalur darat menggunakan truk tangki menuju dermaga atau pelabuhan di Tayan yang masih dapat diakses ponton. "Dengan begitu, tangki penampungan di pabrik bisa dikosongkan dan penerimaan TBS dari petani dapat kembali berjalan," pungkasnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : Pontianak Post