Kepungan Api Tinggal 200 Meter, Enam Orangutan Terjebak di Perkebunan Warga usai Akses Hutan Putus

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:00 WIB
Tim BKSDA Kalbar dan YIARI mengevakuasi orangutan yang terjebak di perkebunan warga di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara. Karhutla memutus jalan pulang enam orangutan menuju hutan, sementara kobaran api berada sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan. (YIARI)
Tim BKSDA Kalbar dan YIARI mengevakuasi orangutan yang terjebak di perkebunan warga di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara. Karhutla memutus jalan pulang enam orangutan menuju hutan, sementara kobaran api berada sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan. (YIARI)

 
KAYONG UTARA — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, kembali mengancam keselamatan primata langka. Enam individu orangutan—terdiri dari dua induk, dua bayi, dan dua orangutan remaja—terjebak di area perkebunan warga setelah akses jalan pulang menuju hutan hangus dilalap api.

Saat proses evakuasi berlangsung, kobaran api tercatat berada hanya sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan. Situasi kritis ini memaksa tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bergerak cepat melakukan operasi penyelamatan darurat.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, menjelaskan bahwa putusnya akses vegetasi menjadi ancaman mematikan bagi pergerakan satwa liar tersebut. "Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di perkebunan dan berpindah untuk mencari makanan dan tempat berlindung," ujar Argitoe.

Penyelamatan dilakukan dalam dua tahap, yakni pada 4 dan 8 September 2026. Tim medis mengamankan Mama Nopi bersama bayinya Nopi, Mama Noni bersama bayinya Noni, serta dua orangutan remaja bernama Naufal dan Nopan. Beberapa di antaranya sempat mengalami dehidrasi dan demam tinggi akibat suhu panas serta kabut asap pekat. Nopan tercatat mengalami lonjakan suhu tubuh hingga 40 derajat Celsius, sementara Mama Noni menderita napas cepat dengan suhu 39,4 derajat Celsius sehingga harus mendapat penanganan infus dan bantuan oksigen.

Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menegaskan pentingnya respons cepat dari warga sekitar dalam mencegah jatuhnya korban satwa maupun konflik dengan manusia. "Peran masyarakat dalam mendeteksi dan melaporkan satwa terdampak menjadi bagian penting dari penanggulangan kebakaran hutan," tegas Murlan. Ia juga mengimbau warga agar tidak menangkap, mengusir, atau melukai orangutan yang terdesak masuk ke area perkebunan.

Sorotan terhadap dampak asap Karhutla pada satwa dilindungi ini turut menyita perhatian nasional. Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, saat meninjau penanganan orangutan bergejala ISPA di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, menegaskan komitmen pemerintah dalam perlindungan ekosistem. "Penanganan karhutla harus menyeluruh. Manusia harus terlindungi, tetapi satwa dan habitatnya juga tidak boleh diabaikan. Perlindungan satwa dan pemulihan lingkungan merupakan hal penting yang saling terkait," tegas Gibran.

Saat ini, keenam orangutan dari Kayong Utara tersebut telah berada di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani perawatan medis intensif hingga kondisi hutan habitat asal mereka dinyatakan aman untuk dilepasliarkan kembali. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
kalbar orangutan